#1 MATERI KEPENULISAN AHMAD RIFA'I RIF'AN

Banyak yang sudah tahu cara menulis, tapi tidak kunjung menghasilkan karya karena tidak punya motivasi yang benar dalam menulis. Gak sedikit yang ikut pelatihan dan seminar nulis di mana-mana, tapi ujung-ujungnya tak ada tulisan yang diselesaikannya. Maka di setiap forum kepenulisan, baik online maupun offline, saya selalu mulai membangun mindset terlebih dahulu. Ini yang menurut saya terpenting untuk kita bangun di jiwa kita.

Dengan memiliki mindset menulis yang benar, perjalanan kita menghasilkan karya insyaallah menjadi perjalanan yang kita nikmati dan sangat menyenangkan. Mindset apa sih yang perlu dimiliki seorang penulis?

1. Upgrade your self 

Tidak melulu kita menulis demi dibaca oleh orang lain. Bagi saya itu nilai plus. Tapi ada yang jauh lebih penting dari itu, yakni mengembangkan diri kita sendiri. Ketika kita ingin menulis tentang suatu ide, kita pasti akan melakukan banyak hal agar ide itu bisa tersampaikan kepada pembaca dengan baik, menarik, dan informatif. Dari sanalah kita akhirnya 'dipaksa' untuk belajar. Maka wajar jika seorang penulis akan memiliki wawasan dan cakrawala yang luas dalam memandang suatu hal. Karena ia telah terbiasa membaca.

Untuk menghasilkan tulisan yg bermanfaat dan menarik, yang perlu dilakukan oleh seorang penulis adalah mencari sebanyak-banyaknya referensi tentang ide yang akan dituliskannya itu. Ia akhirnya rajin membaca topik-topik yang berkaitan dengan tulisan yang akan dibuatnya. Ia akan browsing sana-sini mencari data dan informasi yang terkait tulisannya.

Jika kita punya mindset belajar dan mengembangkan diri, maka dg menjadi penulis gak akan pernah membuat kita rugi. Karena meskipun karya kita tidak dibaca oleh siapapun, paling tidak diri kita yg pasti bertumbuh. Andai pun karya kita tidak terbit, paling tidak menulis jadi terapi bagi jiwa kita sendiri. Gak akan ada ruginya kita menulis.

2. Niatkan untuk jadi orang yg bermanfaat 

Saya sudah 10 tahun lebih menjadi penulis. Ratusan buku saya sudah terbit. Ratusan undangan seminar dan bedah buku saya hadiri. Akhirnya saya punya pemahaman bahwa yg membuat saya produktif nulis bukanlah materi dan pujian. Tapi ingin hidup saya yg gak lama ini bisa bermanfaat. Termasuk ide membuat grup ini. 

Maka saya sarankan di awal, jangan menulis untuk jadi best seller, jadi terkenal, dapat royalti banyak, dan niat2 sejenisnya. Karena kalau niat awalnya materi, biasanya lemah.

Cukup miliki niat untuk bermanfaat bagi sebanyak mungkin pembaca. Insyaallah dg niat itu kita akan produktif nulis dan istiqomah berbagi ilmu, pengalaman, dan pikiran, meskipun tulisan2 kita tidak membuat kita terkenal dan kaya.

Niatkan menulis sebagai media kita berbagi. Sesederhana apapun tulisan kita, jangan pernah meremehkannya. Bisa jadi tulisan yg kita anggap sederhana itu ternyata berdampak besar bagi orang lain.

3. Perjalanan nulis itu gak selalu mudah. 

Saya gak mau memberi iming2 seolah nulis itu mudah. Karena tetap proses belajar butuh perjuangan. Jangan sampai mengira bahwa nulis itu gampang, lalu di perjalanan nanti saat menemui kendala kita jadi orang yg mudah nyerah. Gak sesuai janji manis yg disampaikan saat belajar.

Banyak yang bilang, nulis itu susah. Banyak yg ngeluh, “Mas, jangankan nulis buku, nulis status Facebook aja berantakan. Jangankan nulis artikel, sekali nulis caption IG malah follower pada kabur, hehe...” Maka ini saya sampaikan di awal. Karena bagi sebagian orang, ternyata emang nulis itu gak selalu gampang. Susah meluangkan waktu, susah fokus, susah memulai dari mana, susah cari ide, susah konsisten, dll.

Tapi insyaallah jika niat kita kuat, semua persoalan itu bisa kita pecahkan. Di grup ini insyaallah saya akan sharing tentang pengalaman saya mengatasi hal2 tersebut. Emang gimana sih cara mudah bikin tulisan yg menarik?

Banyak yang bilang, nulis itu susah. Banyak yg ngeluh, “Mas, jangankan nulis buku, nulis status Facebook aja berantakan. Jangankan nulis artikel, sekali nulis caption IG malah follower pada kabur, hehe...”

Saya beberapa kali satu forum dg penulis yg namanya insyaallah kawan2 kenal. Misal saat di Bandung, saya satu panggung dg Kang Abik (Habiburrahman El-Shirazy), beliau punya strategi yg mungkin belum kawan2 ketahui. Di ITS dan Univ. Brawijaya, Malang, beberapa waktu yg lali saya satu forum dg Ust. Salim A Fillah, trik nulisnya unik.

Sempat beberapa kali sharing bareng mas Ippho Santosa, ini lebih keren lagi, bahkan tesis saya spesial bahas trik kepenulisan beliau. Nah, dari mereka saya belajar banyak.

Kalau saya bertanya, ada nggak temen-temen yang pinter masak? Bagaimana kira-kira cara memasak masakan yang lezat? Ketika saya bertanya kepada istri saya cara memasak masakan yang lezat, jawaban sederhana sekali, “Ya dimasak-masak aja”. Jawaban yg sangat tidak memuaskan. 

Karena saya penasaran, akhirnya hampir tiap hari kalau istri sedang masak, saya liatin. Ternyata beneran, masak kayaknya mudah banget, diiris-iris, dipotong-potong, dicampur-campur, dihalusin, digoreng-goreng,  mateng, selesai. Dan hebatnya, masakan itu lezat.

Ternyata begitu kalau orang sudah pinter masak. Padahal kalau kita lihat di tivi kan nggak gitu, masing-masing bahan ada ukurannya. Tapi ini istri saya nggak pake ditimbang, nggak pake diukur, langsung saja dengan yakin memasukkan bumbu-bumbu itu sesukanya. Tapi masakannya enak.

Ternyata orang yang masih memasak pakai ukuran, pakai resep, itu orang yang baru belajar memasak. Kalau sudah pinter masak, nggak butuh cara seperti itu. Tinggal dimasak-masak saja. Nah, beberapa hari yg lalu saya ketemu juga dg novelis yg karyanya insyaallah sudah kawan2 baca, Tere Liye. Saya manggilnya bang Darwis. 

Beliau memberi ilustrasi yg menurut saya memudahkan banget untuk menjelaskan tentang konsep keterampilan. Termasuk keterampilan menulis. Begitu pula dengan menulis. Saya kesulitan ketika ditanya bagaimana mas bisa menulis buku dg produktif. Jawaban saya, ya, ditulis-tulis saja. 

Mungkin jawaban saya ini agak nyebelin, tetapi emang gitu kenyataannya. Saya terus menulis saja, lama-lama tahu sendiri buku seperti apa yang bermanfaat dan dibutuhkan pembaca. Setelah banyak menulis dan buku-buku kita beredar, kita pun bisa menformulasikan sendiri bagaimana cara mengemas sebuah buku agar bisa dinikmati dan digemari oleh pembaca. 

Mungkin penjelasan itu terasa tidak memuaskan. Tapi yg saya rasa memang demikian. Menulis adalah keterampilan yg semakin sering diasah, semakin tajamlah kualitas kepenulisan kita. Bahkan saya pernah suatu saat berbulan2 gak nulis sama sekali. Ternyata ya tumpul lagi. Susah banget nulis dg lancar. Artinya, nulis itu harus terus diasah. Satu dua pertemuan gak akan cukup untuk belajar. Harus diisi terus semangatnya. Banyakin praktik. Kalau ingin bisa renang, tidak cukup baca ilmu tentang renang. Kita harus berani nyebur.

(Ahmad Rifa'i Rif'an, Griya Menulis Indonesia)
_______________________
SERI LENGKAP MATERI KEPENULISAN AHMAD RIFA'I RIF'AN
#1 MATERI KEPENULISAN AHMAD RIFA'I RIF'AN
#2 TEKNIK MENEMUKAN DAN MENENTUKAN IDE - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#3 RISET SEBELUM MENULIS - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#4 TIPS MEMBUAT OUTLINE - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#5 DRAFTING DAN WRITING - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#6 MACAM-MACAM TEKNIK MENULIS - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#7 MACAM-MACAM TEKNIK MENULIS 2 - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#8 TRIK MENYUSUN DAFTAR ISI YANG MENARIK - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#9 TAHAP EDITING - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#10 TAHAP PUBLISHING - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#11 BUKU BAGUS BELUM TENTU LARIS - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#12 ADA APA DENGAN PENERBIT INDIE? - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#13 ADA APA DENGAN PENERBIT INDIE? 2 - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#14 MENULIS BUKU DALAM 10 HARI - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#15 Q & A TENTANG KEPENULISAN - AHMAD RIFA'I RIF'AN
Semoga Bermanfaat :)

0 Response to "#1 MATERI KEPENULISAN AHMAD RIFA'I RIF'AN"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel