#13 ADA APA DENGAN PENERBIT INDIE? 2 - AHMAD RIFA'I RIF'AN

Part Sebelumnya. saat menjawab pertanyaan tentang penerbit indie, saya bercerita tentang buku terbaru saya yang berjudul “Kamu Gak Harus Nyenengin Hati Semua Orang.” (Selanjutnya saya singkat KGHNHSO). 

Saya menjadikan buku itu sebagai studi kasus karena disamping buku itu diterbitkan secara indie, buku itu juga masih fresh, baru saja terbit sehingga moga sangat relevan untuk dibahas saat ini. Padahal asal tahu saja, buku ini:

1. Tidak dijual di toko buku mana pun se-Indonesia
2. Dijual tanpa satu pun reseller atau agen
3. Hanya dijual melalui satu admin
4. Diterbitkan secara indie
5. Masa pre-Order hanya seminggu

Apa yang ingin saya sampaikan melalui poin-poin di atas? Saya ingin membangkitkan optimisme di jiwa kawan-kawan, bahwa dunia penulisan, penerbitan, dan pemasaran buku sudah jauh berbeda dengan puluhan tahun yang lalu. Kita memasuki era yang sangat menarik, dimana semua orang berhak jadi penulis, semua penulis berhak menerbitkan bukunya, dan semua orang memiliki kesempatan yang sangat luas untuk memperkenalkan karyanya.

Buku KGHNHSO yang tidak masuk toko buku besar, tanpa reseller dan agen, diterbitkan secara indie, dan masa pre-order yang relatif singkat, tetapi mampu mengalahkan penjualan buku-buku saya sebelumnya yang diterbitkan penerbit besar dan dijual di toko buku besar di Indonesia. Apa yang bisa kita pelajari dari hal ini?

Pertama, strategi penjualan buku berubah total seiring dengan perubahan teknologi. Jika dahulu toko buku konvensional seperti Gramedia, Togamas, dan sejenisnya mendominasi penjualan buku di Indonesia, yang terjadi kini sangat berbeda. Toko buku online sudah bermunculan, media sosial menjadi alat canggih untuk pemasaran, bahkan saat ini kebanyakan orang memiliki cara membeli buku yang berbeda dengan konsumen di masa lalu. Dulu saat kita ke toko buku, kita melihat-lihat, ada buku apa yang menarik untuk dibeli. Tetapi saat ini sebelum orang datang ke toko buku, mereka sudah tahu buku apa yang hendak di beli. Darimana? Ya, kebanyakan media sosial. Bisa karena mengikuti tren buku yang sedang hits, atau menjadi follower dari penulisnya. Sehingga saat tahu ada buku baru yang terbit, segera ia datang ke toko buku dan sudah punya bekal, buku apa yang mau dicarinya.

Kedua, penerbit indie belum tentu tidak profesional. Kini kita bisa mencetak buku dengan kualitas terbitan penerbit besar. Percetakan tumbuh mengikuti tren. Termasuk percetakan buku kini sudah mulai beradaptasi menyesuaikan dengan kebutuhan konsumen.

Sehingga kita akan kesulitan membedakan mana hasil cetakan penerbit mayor, mana buku cetakan hasil penerbit indie. Karena dari kualitas kertas, hasil cetakan, pengurusan ISBN, desain cover, layout, semuanya juga sudah bisa dilakukan oleh penerbit indie. 

Mungkin ada dari kawan2 yang mengatakan, “Ah, itu kan karena mas Rifai yang nulis. Sudah banyak pembaca yang menunggu karyanya. Beda dengan saya yang penulis pemula.”

Untuk menjawab pertanyaan itu, biasanya saya berkisah tentang proses penerbitan buku pertama saya. Judulnya 9 Rahasia Doa Lulus Ujian (sekarang yang beredar adalah edisi revisi, judulnya menjadi 13 Rahasia Doa Lulus Ujian).

Sebagaimana pernah saya kisahkan secara singkat di materi sebelumnya, bahwa buku itu saya tulis saat masih kuliah. Buku saku, 60 halaman. Saya tulis sendiri, desain cover sendiri, cetak sendiri, jual sendiri. Gimana cara jualnya? Jauh lebih susah dari hari ini. Dulu belum banyak yg tahu sosmed. Internet saja masih harus ke warnet. Seingat saya saat itu belum ada teman kuliah saya yg pakai smartphone. Maka jualannya jauh lebih susah. Mau masuk Gramedia, tapi modal terbatas, padahal untuk masuk Gramedia harus cetak minimal 2000 eks agar bisa menyetok toko2 yg ada. Akhirnya, saya bikin brosur, diprint, disebar ke kampus dan sekolah2. Saya titip jual ke koperasi sekolah, koperasi mahasiswa, jaringan pertemanan, semua saya lakukan. Maka saat saya menyaksikan penulis saat ini, bener2 diuntungkan dg media. Asal kita (maaf), nggak manja, insyaallah kita bisa. Sayangnya kita ini kan pinginnya usaha seringan-ringannya dan meraup hasil sebesar2nya, dalam tempo yg sesingkat2nya. Wajar sih, semua orang juga pinginnya gitu. Tetapi sayangnya, setiap keberhasilan, selalu ada harga yg harus dibayar.

Jangan lelah untuk terus belajar. Saya pun sampai sekarang masih terus belajar dari siapa pun. 

Lalu gimana sih proses kreatif dari penulisan sebuah buku sampai penjualan? Secara singkat, inilah yg saya lakukan saat hendak menerbitkan buku KGHNHSO kemarin:

1. Riset calon pembaca kita. Saya saat itu mempelajari insight dari instagram saya. Ternyata pembaca buku saya terbanyak rentang usianya adalah 18-32 tahun. Maka saya harus mencari tema yg menjadi kerisauan anak muda menjelang dewasa. Temanya harus kekinian dan millenial banget. Bahasanya harus sederhana dan ngena. 

2. Setelah tema ketemu, saya mulai menyusun satu demi satu, kerangka tulisan. Saya selesaikan naskah itu. Naskah yang belum memiliki judul. Karena masalah judul ini benar2 penting. Salah pilih judul, dampaknya bisa luar biasa. Naskah bagus yg memiliki judul biasa, seringkali gagal karena tidak menyita perhatian pembaca.

3. Maka setelah naskah kelar, saya lantas mendiamkannya sejenak. Sambil riset tentang judul. Hingga ketemulah saat itu kalimat yg menurut saya ngena banget, yakni “Kamu Gak Harus Nyenengin Hati Semua Orang.” Coba deh pelajari diksinya. Mengapa saya pilih kata “kamu”, bukan “anda”? Mengapa saya pilih kata “gak”, bukan “tidak”? Mengapa saya pilih kata “nyenengin”, bukan “menyenangkan”? Karena ini terkait target pembaca tadi.

4. Saya pun memposting judul itu, melihat respon calon pembaca. Begitu terposting, responnya luar biasa positif. Tanpa berpikir panjang, saya pun segera menyampaikan ke tim, buku ini harus segera diproses. Kalo gak segera dieksekusi, respon positif ini bisa2 cepat memudar, akhirnya hilang begitu saja. Sayang banget, ini momentum terbaik. 

5. Akhirnya, teman2 segera menyiapkan semuanya. Disiapkanlah pre-order. Disiapkan bonus2. Untuk pre-order pun dibuka akhir sampai awal bulan. Pas gajian, hehe.. Hasilnya sebagaimana yg saya sampaikan, penjualan seminggu pre-order mampu mengalahkan penjualan buku saya di toko buku berbulan2. 

Maka tetaplah optimis. Kini banyak kok penulis senior yg penjualan bukunya tertinggal jauh dari penulis pemula yg tak berhenti belajar. Saya mengamati ada begitu banyak penulis muda yg usianya 20-an tahun tetapi bukunya sukses bukan main. Yg utama dari anak muda adalah terus belajar, harus tangguh, kurangi rebahan jika hanya untuk membuang waktu scrolling sosmed dan lihat konten2 yg gak manfaat. Boleh rebahan, asal punya tujuan, ada target yg hendak dicapai, sehingga dampaknya bisa bawa perubahan.

(Ahmad Rifa'i Rif'an, Griya Menulis Indonesia)
_______________________
SERI LENGKAP MATERI KEPENULISAN AHMAD RIFA'I RIF'AN
#1 MATERI KEPENULISAN AHMAD RIFA'I RIF'AN
#2 TEKNIK MENEMUKAN DAN MENENTUKAN IDE - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#3 RISET SEBELUM MENULIS - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#4 TIPS MEMBUAT OUTLINE - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#5 DRAFTING DAN WRITING - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#6 MACAM-MACAM TEKNIK MENULIS - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#7 MACAM-MACAM TEKNIK MENULIS 2 - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#8 TRIK MENYUSUN DAFTAR ISI YANG MENARIK - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#9 TAHAP EDITING - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#10 TAHAP PUBLISHING - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#11 BUKU BAGUS BELUM TENTU LARIS - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#12 ADA APA DENGAN PENERBIT INDIE? - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#13 ADA APA DENGAN PENERBIT INDIE? 2 - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#14 MENULIS BUKU DALAM 10 HARI - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#15 Q & A TENTANG KEPENULISAN - AHMAD RIFA'I RIF'AN
Semoga Bermanfaat :)

0 Response to "#13 ADA APA DENGAN PENERBIT INDIE? 2 - AHMAD RIFA'I RIF'AN"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel