#8 TRIK MENYUSUN DAFTAR ISI YANG MENARIK - AHMAD RIFA'I RIF'AN


TRIK MENYUSUN DAFTAR ISI YANG MENARIK 

Mengapa kita butuh menyusun daftar isi yang menarik? Pertama, agar proses penulisan buku menyenangkan. Dengan daftar isi yang menarik, kita tidak jenuh dan kesulitan dalam menulis isi dari bab-bab yang kita rencanakan.

Selain itu, daftar isi adalah pintu ketiga dari buku kita. Biasanya saat pembaca hendak membaca buku, yg dilihat:

1. Judul buku di cover depan
2. Sinopsis atau blurb di cover belakang
3. Daftar isi

Maka betapa ruginya kalau kita menulis daftar isi asal-asalan. Jangan sampai buku kita yang sebenarnya bergizi justru tidak diminati karena daftar isi yang tidak menarik.

Berikut saya beberapa trik yang bisa kita lakukan untuk menulis daftar isi yang menarik. 

1. Susunlah Secara Deduktif 

Tidak sedikit yang kelihatan bingung dalam menempatkan suatu materi mau dimasukkan dalam bab 1, 2, 3 dan seterusnya. Akhirnya menyusunnya random sekali.

Padahal untuk sebuah buku yang topiknya spesifik, baiknya bab-bab itu disusun secara berurutan sesuai kronologis materi. 

Dalam istilah Bahasa Indonesia dikenal istilah deduktif, yaitu dari materi umum menuju materi khusus. Misalnya, buatlah bab pertama sebagai materi yang menjelaskan konsep dasar. Sehingga tentang definisi, sejarah, awal mula, dan apapun yang berkaitan dengan pengenalan, masuk di bab-bab awal. Untuk bab-bab berikutnya barulah kita masuk ke detail materi. Nanti saya lampirkan daftar isi Dahsyatnya Puasa Daud sebagai contoh daftar isi deduktif itu seperti apa.

2. Dari Mudah ke Sulit 

Meskipun tidak selalu, tapi pada umumnya buku terbagi menjadi tiga bagian besar:

Pendahuluan
Inti
Kesimpulan

Pendahuluan, kita bagi menjadi beberapa bab. 
Inti, kita bagi menjadi beberapa bab.
Kesimpulan biasanya cukup ditulis dalam satu bab. Meskipun tidak menutup kemungkinan lebih dari itu.

Nah, yang menurut saya perlu diperhatikan, saat menulis bab-bab inti, usahakan kita mulai membahas bagian yang mudah menuju bagian yang lebih sulit. Itulah model pengembangan karangan yang umum dipakai oleh banyak penulis. Kita menggiring pikiran pembaca dari materi yang mudah terlebih dahulu. Mengapa demikian? Salah satu alasannya, pembaca bisa beradaptasi terlebih dahulu dengan materi yang hendak kita bahas. 

Usahakan kesan positif kita hadirkan di awal. Jangan sampai baru mulai membaca, ternyata terasa rumit sekali, padahal bagian belakang mudah. Khawatirnya jika bagian awal sudah sulit dipahami, pembaca menyimpulkan buku kita sulit dipahami sehingga berpaling dari buku kita.

Mungkin ada yang bertanya, “Apakah buku kita selalu tersusun dengan pendahuluan, inti, dan kesimpulan, mas?”

Tidak harus. Karena kita tidak sedang menyusun skripsi atau tesis. Itulah enaknya nulis buku populer. Berbeda dengan karya ilmiah yang aturannya baku. Penulisan buku populer, sebenarnya suka-suka kita. 

Saya sudah mencoba banyak strategi dalam pembagian bab. Kadang saya menulis secara sistematis mulai dari pendahuluan, baru inti, sebagaimana buku Dahsyatnya Puasa Daud. Kadang saya membagi bab menjadi beberapa kategori atau wilayah sosial yang saya bahas, misal pada buku “Tuhan, Maaf, Kami sedang Sibuk.” Bahkan kadang saya tidak membagi materi saya menjadi bab-bab, ini pada kumpulan esay pada buku yang topiknya umum, misal pada buku “Ketika Tuhan Tak Lagi Dibutuhkan.” Bahkan saya pernah menulis buku tanpa ada judul bab, ya hanya kumpulan quote saja, misal pada buku “Surat Cinta untuk Kekasih Sejatiku.”

Itulah enaknya nulis buku populer. Kita bebas dalam berekspresi dan menyusun konsep buku kita sendiri. Tapi meskipun fleksibel, usahakan penyusunan bab-babnya nyaman dibaca. Maka tip yang saya sajikan di sini adalah sebagai upaya untuk membuat pembaca nyaman dengan buku kita. 

3. Sesuaikan dengan Tingkat Intelektual Pembaca 

Maksudnya bagaimana? Jika target pembaca buku kita adalah remaja, maka gunakan daftar isi yang sesuai dengan tingkat kemampuan anak remaja. Diksi atau pilihan yang kita pilih harusnya adalah diksi yang mereka pahami dan benar-benar mereka minati. Bukan hanya diksi saat menulis isi lho ya. Termasuk diksi dalam menulis daftar isi. Sebab sebagaimana saya sebutkan di awal tadi, sebelum membaca isi, daftar isi biasanya jadi rujukan ketiga setelah membaca judul di cover depan dan sinopsis atau blurb di cover belakang. 

Hindari kerangka buku yang terlalu intelek. Perhatikan pangsa pasar kita. Misal, saat saya menulis buku “Menjadi Pemuda bertauhid, Berakhlak, Berprestasi” tentu saya usahakan menggunakan diksi yang anak muda banget. Saya harus beradaptasi dengan kosakata-kosakata yang sedang trend di anak muda untuk memudahkan mereka menangkap pesan yang mau saya sampaikan. Saya tidak bisa menyamakan dengan kosakata yang saya pilih saat menulis buku “Tuhan, Maaf, Kami Sedang Sibuk” atau “Ketika Tuhan Tak Lagi Dibutuhkan” yang pembacanya mayoritas kaum pekerja, atau minimal mahasiswa. 

4. Daftar Isi yang Bikin Penasaran 

Salah satu tujuan kita membuat daftar isi adalah untuk membuat pembaca semakin tertarik dengan buku yang kita tulis. Jika setelah membaca daftar isi saja pembaca sudah bisa memprediksi yang kita bahas, biasanya mereka akan kabur sebelum membuka halaman berikutnya. Jangan sampai saat membaca daftar isi pembaca lantas komentar, “Ah, yang dibahas gini doang!”

Maka salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah dengan membuat daftar isi semenarik mungkin. Jadikan daftar isi sebagai pintu yang memikat pembaca. Sehingga usai membaca daftar isi buku kita, mereka semakin bersemangat membaca satu demi satu materi buku yang kita tulis.

Saya belajar dari Dale Carnegie, salah satu penulis legendaris yang berhasil membuat buku pengembangan diri dan masih menjadi rujukan meski penulisnya sudah meninggal dunia ratusan tahun yang lalu. Misalnya saja buku How To Stop Worrying And Start Living yang edisi bahasa Indonesia-nya diterjemahkan oleh penerbit Gramedia dengan “Petunjuk Hidup Tenteram dan Bahagia”. Daftar isinya benar-benar bikin pembaca penasaran. Saya kutipkan beberapa:

- Delapan Patah Kata yang Dapat Mengubah Hidup
- Hukum yang Dapat Anda Pergunakan Untuk Melenyapkan Kesedihan Hati
- Bagaimana Mengurangi Kesedihan Hati di Bidang Bisnis Sebesar 50%
- Resep Mujarab Mengatasi Kesedihan Hati
- Bagaimana Menyembuhkan Hati yang Sedih dalam 14 Hari
- Cara Agar Tidak Sedih Dikritik Orang
- Bagaimana Mencari Pekerjaan yang Membuat Anda Bahagia

Itu hanya beberapa bab yang saya kutip. Pembaca buku ini dibuat penasaran sehingga termotivasi mencari jawaban dari kalimat-kalimat yang diungkapkan oleh Carnegie di daftar isinya. Buku ini tebalnya 600-an halaman, tetapi penulis hanya membaginya menjadi 30 bab. Agar pembaca tidak jenuh, dibuatlah sub-sub bab yang detail dengan solusi-solusi praktis yang selama ini menjadi pertanyaan dari target pembaca. 

5. Cari Pembeda dari Buku Setema yang Pernah Terbit 

Saat membuat daftar isi, kita sebenarnya sudah bisa mulai riset, buku apa saja yang temanya sama atau mirip dengan buku yang hendak kita tulis. Lalu lihat daftar isinya apa saja. 

Butuh modal banyak dong? Nggak juga. Anda bisa melihat bocoran daftar isi tanpa beli bukunya, atau bahkan tanpa pergi ke toko buku. Sekarang riset di genggaman tangan pun jadi. Saya kalo lagi menulis buku, pasti gak pernah lepas dari riset awal di Google Play Book. Di sana buku berlimpah, dan selalu disajikan beberapa halaman awal secara gratis. Maka daftar isi hampir selalu bisa kita baca. 

Misal, Anda sedang menulis buku tentang Puasa Daud. Anda buka Google Play Book, lalu mencari dengan keyword “Puasa Daud”. Muncullah beberapa buku digital yang membahas tentang puasa. Salah satunya buku saya, yang berjudul “Dahsyatnya Puasa Daud”. Anda akan dapatkan 20 halaman awal secara gratis. Mulai dari kata pengantar,Daftar isi, serta bab perndahuluan (prolog). 
Atau Anda sedang ingin menulis tentang “Cara Menulis Buku Best Seller”, maka muncullah beberapa buku, salah satunya buku “Beginilah Cara Saya Nulis Buku Bestseller”. Anda bisa membaca 16 halaman depan secara gratis. Mulai dari daftar isi, serta beberapa bab awal. 

Dari sana Anda bisa ngintip buku-buku yang temanya mirip dengan buku yang mau kita tulis. Dari hasil riset itu paling tidak kita mendapat beberapa manfaat. Pertama, kita dapat ide dan inspirasi baru tentang apa saja yang mau kita bahas di buku kita nanti. Kedua, kita bisa mengkolaborasikan beberapa buku yang kita riset. Sehingga buku yang kita hadirkan lebih lengkap dari buku-buku yang pernah terbit sebelumnya. Manfaat ketiga, kita bisa mencari referensi tentang bab pembuka yang baik seperti apa. Sehingga kita gak bingung bagaimana memulai penulisan buku kita.

(Ahmad Rifa'i Rif'an, Griya Menulis Indonesia)
_______________________
SERI LENGKAP MATERI KEPENULISAN AHMAD RIFA'I RIF'AN
#1 MATERI KEPENULISAN AHMAD RIFA'I RIF'AN
#2 TEKNIK MENEMUKAN DAN MENENTUKAN IDE - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#3 RISET SEBELUM MENULIS - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#4 TIPS MEMBUAT OUTLINE - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#5 DRAFTING DAN WRITING - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#6 MACAM-MACAM TEKNIK MENULIS - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#7 MACAM-MACAM TEKNIK MENULIS 2 - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#8 TRIK MENYUSUN DAFTAR ISI YANG MENARIK - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#9 TAHAP EDITING - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#10 TAHAP PUBLISHING - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#11 BUKU BAGUS BELUM TENTU LARIS - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#12 ADA APA DENGAN PENERBIT INDIE? - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#13 ADA APA DENGAN PENERBIT INDIE? 2 - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#14 MENULIS BUKU DALAM 10 HARI - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#15 Q & A TENTANG KEPENULISAN - AHMAD RIFA'I RIF'AN
Semoga Bermanfaat :)

0 Response to "#8 TRIK MENYUSUN DAFTAR ISI YANG MENARIK - AHMAD RIFA'I RIF'AN"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel