#2 TEKNIK MENEMUKAN DAN MENENTUKAN IDE - AHMAD RIFA'I RIF'AN

Jika kemarin kita bicara tentang mindset menulis, maka di materi hari ini kita sudah mulai masuk pada teknis. Dimana proses menulis sudah bisa kita mulai. Saat kita hendak menulis buku, proses apa saja sih yang perlu kita lakukan?

Paling tidak ada 4 tahapan:
1. Pre-Writing (Ide, riset, outline)
2. Drafting dan Writing (Tahap penulisan, detail paragraf)
3. Editing (Pemeriksaan aksara)
4. Publishing (Penerbitan karya)

Pre-writing itu apa sih? Yakni proses yang butuh kita lakukan sebelum semua proses menulis kita lakukan.

Sebelum menulis naskah buku, apa saja yang butuh kita lakukan? 

Paling tidak ada tiga hal utama.
1. Menemukan ide 
2. Melakukan riset 
3. Membuat outline

Kita uraikan yg pertama dulu, yakni terkait ide. Ide tulisan ini yang paling penting. Tanpa ide , kita kesulitan mencari tema . Tanpa tema, kita tidak bisa melakukan riset . Tanpa riset, kita tidak bisa membuat outline. Jadi tahap pertama harus dilalui sebelum melangkah ke tahap berikutnya.

Hari ini kita bicara dulu tentang teknik menemukan dan menentukan ide tulisan.

Teknik Menemukan dan Menentukan Ide

Disamping pertanyaan susah mencari ide, di beberapa acara seminar kepenulisan yg saya hadiri, saya justru menemukan pertanyaan yang unik, yakni terlalu banyak ide sehingga kesulitan menentukan mana yg harus ditulis terlebih dahulu. 

Itulah mengapa saya katakan kita butuh cara menemukan dan menentukan ide2 yg ada.

Jujur, saya termasuk yg kedua. Ide yg ada di sekitar kita sebenarnya berlimpah. Ada banyak bahan yg sangat butuh dan menarik untuk kita ulas menjadi tulisan. Apalagi kita sedang menikmati era teknologi informasi yg sedemikian dahsyat. Berbagai peristiwa bisa kita baca, dengar, dan lihat dalam sekejap. Bahkan live. Bukankah semua itu bisa menjadi sumber ide yg gak ada habis-habisnya?

Tinggal kita mau mengolah data yg mana. Sebab data yg berlimpah kadang membuat kita bingung menentukan menulis tentang apa.

Buka Mata
Buka Telinga
Buka pikiran
Buka Hati

Itu saja sebenarnya rumusnya.
Dengan membuka mata dan telinga, otak kita akan menerima data. 
Dengan membuka pikiran dan hati, otak kita akan mengolah data itu, untuk kemudian kita sampaikan kepada pembaca.

Baca, lalu menulislah.
Dengar, lalu sampaikanlah.
Belajar, lalu ajarkanlah. 

Jadikan itu sebagai prinsip hidup. Insyaallah kita akan menjadi manusia yg gak pernah kehabisan ide.

Kalau kita membaca untuk menulis, mendengar untuk menyampaikan, dan belajar untuk mengajar, insyaallah yg kita serap akan maksimal. Ide-ide mengalir deras. Karena saat membaca, mendengar, dan menulis, target kita bukan hanya untuk tahu. Target kita adalah bagaimana membuat orang lain juga tahu.

Target itu yg pada akhirnya membuat pembelajaran kita lebih maksimal. Orang yg membaca hanya untuk tahu, yg diserap mungkin tak sebesar orang yg membaca demi membuat orang lain tahu. Itulah mengapa saya semangat untuk menjadi penulis, menjadi pembicara, dan menjadi pengajar. Karena saya berusaha maksimal dalam belajar.

Misalnya ketika saya membaca sebuah tulisan, biasanya saya menutup tulisan itu, kemudian saya menuliskan hasil bacaan tersebut sesuai dengan bahasa saya, tanpa membuka lagi tulisan yg sudah saya baca tersebut. Dengan menuliskan bacaan kita, hakikatnya kita sedang berusaha mengikat hasil bacaan kita. Sehingga kita tidak terjebak apa yg disebut sebagai ilusi kompetensi.

Apa itu ilusi kompetensi?

Yaitu suatu kondisi dimana kita merasa telah mempelajari materi tersebut, padahal kenyataannya kita belum menguasainya. Mungkin saat ujian sekolah atau kuliah, kita sekilas membaca soal ujian, kita merasa bisa menjawabnya. Tetapi ketika hendak menjawabnya, kita kesulitan, bahkan blank sama sekali. Kita merasa sudah bisa, padahal sebenarnya belum. Itulah ilusi kompetensi.

Dengan menulis, kita meminimalisir hal tersebut. Karena saat kita menuliskan materi yg sudah kita pelajari, kita seolah melakukan recall atas pengetahuan2 baru. Pada tahap recall ini, kita akan berusaha mengingat-ingat kembali apa yg sudah kita pelajari. Bukan hanya mengingat, kita bahkan mengkaitkan dengan pengetahuan2 yg sudah kita miliki. Itulah yg pada akhirnya membuat pemahaman itu terikat kuat di kepala kita.

Dalam teori pendidikan, kita mengenal Piramida Pembelajaran atau sering dikenal dengan Cone of Experience yg dirumuskan oleh Edgar Dale. Diungkapkan bahwa penguasaan materi dan daya ingat yg diperoleh:

- Dari membaca hanya 10%
- Dari mendengar hanya 20%
- Dari melihat hanya 30%, 

Namun ketika kita belajar dengan cara mengajarkan, berdiskusi, melakukan, kontribusi yg kita dapat adalah 70% sampai 90% dari materi yg kita pelajari. 

Itulah sebabnya saat membaca sesuatu, targetkan kita menuliskannya. 

Andaipun tulisan itu tidak terbit, paling tidak penguasaan kita terhadap materi itu lebih mendalam.

Ide ada berlimpah di sekeliling kita. Kita tinggal memilih, mana yg hendak kita tuliskan terlebih dahulu. 

Lantas ide mana yg baiknya segera kita tuliskan terlebih dahulu?

Pertama, yg sangat kita sukai. 

Jangan remehkan hobi dan minat. Mengerjakan sesuatu yang kita sukai, bukankah sangat menyenangkan. Yg penting senang dulu.

Apalagi dalam proses belajar. Kita baru belajar nulis nih, tiba-tiba memilih tema berat yg kurang kita sukai, saya yakin gak lama bakal stres. 

Kenapa? 

Karena menulis itu butuh energi besar dan panjang. Kalau dilakukan dengan terpaksa tanpa rasa senang, rawan jenuh dan putus asa.

Maka temukan apa bacaan yg selama ini kita gemari. Mulai saja dari sana.

Kedua, yg sudah kita alami. 

Kalo saya diminta bikin materi tentang teknik menulis buku, insyaallah sangat mudah. Mengapa? Saya sudah sepuluh tahun lebih menjalaninya.

Seolah-olah saya sedang mengisahkan pengalaman pribadi. Susah senangnya, hambatannya apa saja, solusinya apa, bagaimana teknik yg paling efektif, mudah saya ungkapkan, karena saya menjalaninya sendiri dalam rentang waktu yg tak singkat. 

Begitu juga dg tema2 lain, kalau kita sudah mengalaminya sendiri, insyaallah lebih mudah menuliskannya. 

Bagaikan sedang menulis buku diary. Anda bisa mulai dari sana. Ada yg sudah puluhan tahun berbisnis, mudah saja bicara tentang tema entrepreneurship. 

Itulah sebabnya, jomblo tapi menulis tentang pernikahan dan parenting agak kesulitan. Mungkin bisa, tapi feel-nya gak dapet. Bisa-bisa malah baper saat menuliskannya, hehe..

Bagaikan kita berbusa-busa bicara tentang nikmat dan segarnya meminum jus alpukat, tapi kita belum pernah meminumnya.

Ketiga, yg sangat kita kuasai. 

Nah, mungkin kita sudah bertahun-tahun mempelajari bidang tertentu secara intens. Atau meneliti suatu hal untuk dijadikan sebagai bahan skripsi, tesis, atau bahkan disertasi. Berarti kita benar2 mendalami hal tersebut. Memiliki banyak data dan sudah mempelajari penelitian2 sebelumnya terkait hal itu. Kita sudah membaca begitu banyak referensi tentang tema itu.

Maka semoga saat menuliskannya tidak begitu sulit, karena penguasaan kita yg sudah di atas rata2.

Keempat, yg sedang kita dalami/pelajari 

Saat ini sedang sekolah? Jangan lupa tuliskan materi pelajaran kita. Ada kawan saya yg tulisannya sewaktu menerima materi sekolah dan kuliah, akhirnya dikirim ke penerbit, dan jadi buku maupun LKS (lembar kerja siswa). 

Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. 

 Materi lebih kita kuasai,
 Nilai tinggi pun kita raih,
 Royalti tinggi kita nikmati.

Kelima, yg sangat dibutuhkan pembaca. 

Kita menulis untuk memberi manfaat bagi banyak orang kan? Maka jadilah solusi atas permasalahan yg dihadapi orang banyak. 

Jadi pendengar atas curhatan banyak kawan, kadang menyenangkan. Kita jadi tahu, apa sih sebenarnya permasalahan yg dihadapi oleh orang2 pada umumnya.

Saat sekolah dan kuliah, kita akhirnya tahu, permasalahan anak millenial umumnya pada kisaran apa. 

Saat sudah kerja, kita tahu masalah orang kantoran pada umumnya hal apa. 

Dengan begitu ide-ide akhirnya berlimpah. Ketika kita menjawabnya, bisa-bisa buku kita best seller, karena salah satu ciri buku best seller adalah buku yg mampu menjawab persoalan pembacanya.

Mungkin itu ya sharing saya terkait ide. Ide itu berlimpah. Segera pilih satu dan langsung eksekusi. 

Untuk materi selanjutnya akan saya urai secara bertahap ya pada pertemuan2 mendatang. Agar tidak terjejali materi yg terlalu banyak. Dikit2 yg penting istiqomah. 

Semoga niat kita diikhlaskan. Hati kita ditawadhu’kan. Dan semua ilmu kita menjadi kemanfaatan bagi sebanyak mungkin orang. Aamiin..

(Ahmad Rifa'i Rif'an, Griya Menulis Indonesia)
_______________________
SERI LENGKAP MATERI KEPENULISAN AHMAD RIFA'I RIF'AN
#1 MATERI KEPENULISAN AHMAD RIFA'I RIF'AN
#2 TEKNIK MENEMUKAN DAN MENENTUKAN IDE - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#3 RISET SEBELUM MENULIS - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#4 TIPS MEMBUAT OUTLINE - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#5 DRAFTING DAN WRITING - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#6 MACAM-MACAM TEKNIK MENULIS - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#7 MACAM-MACAM TEKNIK MENULIS 2 - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#8 TRIK MENYUSUN DAFTAR ISI YANG MENARIK - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#9 TAHAP EDITING - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#10 TAHAP PUBLISHING - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#11 BUKU BAGUS BELUM TENTU LARIS - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#12 ADA APA DENGAN PENERBIT INDIE? - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#13 ADA APA DENGAN PENERBIT INDIE? 2 - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#14 MENULIS BUKU DALAM 10 HARI - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#15 Q & A TENTANG KEPENULISAN - AHMAD RIFA'I RIF'AN
Semoga Bermanfaat :)

0 Response to "#2 TEKNIK MENEMUKAN DAN MENENTUKAN IDE - AHMAD RIFA'I RIF'AN"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel