#4 TIPS MEMBUAT OUTLINE - AHMAD RIFA'I RIF'AN

TIPS MEMBUAT OUTLINE 

 "Aduh, habis bab 2 nulis apa lagi ya?"
"Wah, udah mentok nih, gak ada ide lagi."
"Ini aku nulis kok gak ada kelar-kelarnya ya."
"Waduh, aku kok jadi bahas tentang ini sih."
"Ini tulisanku kok jadi gak jelas ini mau bahas apa." 

Pernah ngalamin kayak gitu? Ada banyak penulis yg ngeluh kalau naskahnya nggak selesai-selesai ditulis, naskahkah jadi melebar kemana-mana, tidak fokus, dan hambatan2 lain. Ternyata salah satu penyebabnya adalah di awal menulis ia tidak pernah merencanakan bukunya dengan terperinci. Ia tidak membuat kerangka yang membatasi tulisannya akan membahas apa saja. Akhirnya ia asal nulis, ngalir saja, tanpa ada panduan jelas yang membuat naskah bukunya sistematis dan teratur.

Maka jika kita review dari awal, untuk menulis buku, paling tidak ada 4 tahapan:

1. Pre-Writing ( Ide, riset, outline)
2. Drafting (Tahap penulisan, detail paragraf)
3. Editing (Pemeriksaan aksara)
4. Publishing (Penerbitan karya)

Hari ini kita masih membahas tentang pre-writing. Menentukan ide, sudah kita bahas. Tentang riset juga sudah kita ulas dalam 2 pertemuan. Kali ini kita masuk materi membuat outline.

Sebelum masuk ke cara membuat outline, saya khawatir dari teman2 ada yg belum familier dengan outline. Apa sih yang dimaksud dengan outline? 

Outline kalo menurut bahasa biasa dkenal sebagai kerangka atau garis besar. Jadi outline merupakan rencana penulisan yang memuat garis-garis besar dari suatu karangan yang akan digarap dan merupakan rangkaian ide-ide yang disusun secara sistematis, jelas, dan teratur.

Outline inilah yang setelah matang nantinya akan menjadi daftar isi dari buku kita. Nah, kalau kita sudah bikin daftar isi kan kita mudah untuk menulis satu demi satu materi yang hendak kita bahas di buku yang kita rencanakan.

Apakah menulis selalu butuh outline? Bukankah ada penulis yg menulis dg mengalir saja, tidak butuh outline, dan hasilnya memuaskan?

Jawabannya, benar, ada penulis yg bisa menulis buku dg cara demikian. Tetapi sebagian besar, apalagi pemula yg masih butuh banyak belajar mengembangkan naskah, outline sangat membantu proses menulis.

Untuk bisa menyelesaikan sebuah buku, kita memerlukan napas yang sangat panjang. Dalam perjalanan bisa saja kita terhenti dalam melanjutkan naskah. Nah, saat kita berhenti menulis, untuk melanjutkan kembali naskah yg kita tinggalkan itu rawan lepas dari benang merahnya. Di sinilah keberadaan outline sangat membantu.

Dengan outline, kita bisa menjaga agar tulisan kita tetap mengalir dan terhubung, dari satu bab ke bab yg lain. Jika di kemudian hari kita berhenti menulis lagi, entah karena ada kesibukan lain yg tidak bisa kita tunda, tidak terlalu mengganggu keberlanjutan naskah, karena kita sudah punya kerangka yg menjaga agar tulisan tetap sesuai dg yg kita rencanakan di awal.

Lantas gimana cara menyusun outline? 

Saya punya cara yang sangat memudahkan menyusun outline, apalagi untuk pemula, insyaallah cara ini sangat membantu. Saya sudah menguji coba cara ini berkali-kali, dan hasilnya keren banget. Yang belum pernah menulis sekalipun, bisa melakukannya dengan baik. 

Jadi, dalam seminar maupun kursus menulis, saya biasanya meminta para peserta untuk membuat sebanyak mungkin pertanyaan tentang tema yang ditentukan.

Setelah ide ketemu, mencari referensi sudah dilakukan, maka langkah berikutnya adalah susun sebanyak mungkin pertanyaan dari tema tersebut. Pertanyaan2 ini bisa muncul dari diri kita sendiri, atau bisa dari kerisauan orang lain. Maka jadi teman curhat itu baik. Dari sana kita tahu apa sih kegelisahan yg dihadapi oleh banyak orang? Semakin banyak yg bertanya2 tentang suatu hal, maka semakin berpotensi tema itu kita tuliskan.

Misal, saat masih sekolah atau kuliah, banyak kegelisahan pelajar atau mahasiswa yg ingin sekali fokus belajar dan berprestasi di usia muda, tetapi di masa itu mulai muncul perasaan cinta dan dirasa mengganggu fokus belajar. Gimana ngatasinnya?

Dari sana kita pun terpikir membuat tulisan panjang tentang Cara Mengatasi Rasa Cinta Agar Tidak Mengganggu Fokus Sekolah dan Kuliah. Dari ide itu, hadirkan pertanyaan2 yg biasa dihadapi oleh anak muda terkait cinta.

Misal:

- Apa itu cinta?
- Apa definisi cinta dalam ilmu psikologi?
- Apa definisi cinta dalam agama?
- Bagaimana penjelasan sains tentang cinta?
- Apa saja yang bisa menstimulasi hadirnya cinta?
- Bagaimana mengatasi rasa cinta?
- Apakah cinta bisa dikendalikan?
- Dan seterusnya

Dari pertanyaan2 yg sudah kita kumpulkan, kita bisa lebih mudah menyusun outline atau kerangka dari buku kita dengan cara mengkombinasikan bersama proses riset. 

Misal, dari semua pertanyaan di atas, kita cari jawabannya di berbagai referensi. Akhirnya kita membuat daftar isi sebagai berikut:

Bab 1 Apa Itu Cinta? (Bab ini hanya membahas definisi cinta)

- Cinta menurut psikologi
- Cinta dalam Islam
- Pendapat para pakar tentang cinta
- Dan seterusnya

Bab 2 The Science of Love (Bab ini menjelaskan proses dan sebab terjadinya cinta secara sains)

- Oksitosin (Hormon cinta)
- Ternyata Beginilah Proses Terjadinya Cinta
- Cinta Itu di Otak, Bukan di Hati
- Dan seterusnya

Bab 3 Ciri-Ciri Orang yang Jatuh Cinta 

- Mengapa saat jatuh cinta jantung berdetak kencang?
- Semua tiba-tiba indah
- Segalanya berhubungan dengan dia
- Namanya lebih sering disebut
- Dan seterusnya

Dari bab dan sub bab yang kita buat itu, kita lebih mudah untuk mencari jawabannya. Riset kita pun lebih fokus. Tidak melebar ke mana-mana. Dan misal di tengah jalan kita berhenti menulis naskah ini, entah karena kesibukan lain yg tidak bisa ditinggalkan, semoga kita tidak kehilangan alur saat hendak melanjutkan nulis kembali. Karena sudah ada rencana detail dan gambaran jelas tentang apa yang mau kita tulis dari awal sampai selesai.

Mungkin ada yg bertanya, apakah setelah membuat outline kita boleh menambah atau mengurangi bab dan sub babnya saat sudah mulai proses menulis? 

Ya boleh saja. Outline itu alat bantu. Jangan malah membatasi kreativitas kita. Karena bisa jadi di tengah proses menulis, kita mendapat ide lain yang bisa melengkapi isi buku kita.

Kita bisa sangat fleksibel mengubah outline. Yg penting kita nyaman menulisnya. Bahkan saat menulis sudah dimulai ternyata kita kesulitan menulis suatu bab yg terlanjur kita masukkan di outline, silahkan ubah dg yg lebih mudah. intinya, adanya outline itu tujuannya untuk membantu kita nulis. Jangan malah menghambat.

(Ahmad Rifa'i Rif'an, Griya Menulis Indonesia)
_______________________
SERI LENGKAP MATERI KEPENULISAN AHMAD RIFA'I RIF'AN
#1 MATERI KEPENULISAN AHMAD RIFA'I RIF'AN
#2 TEKNIK MENEMUKAN DAN MENENTUKAN IDE - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#3 RISET SEBELUM MENULIS - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#4 TIPS MEMBUAT OUTLINE - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#5 DRAFTING DAN WRITING - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#6 MACAM-MACAM TEKNIK MENULIS - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#7 MACAM-MACAM TEKNIK MENULIS 2 - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#8 TRIK MENYUSUN DAFTAR ISI YANG MENARIK - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#9 TAHAP EDITING - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#10 TAHAP PUBLISHING - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#11 BUKU BAGUS BELUM TENTU LARIS - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#12 ADA APA DENGAN PENERBIT INDIE? - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#13 ADA APA DENGAN PENERBIT INDIE? 2 - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#14 MENULIS BUKU DALAM 10 HARI - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#15 Q & A TENTANG KEPENULISAN - AHMAD RIFA'I RIF'AN
Semoga Bermanfaat :)

0 Response to "#4 TIPS MEMBUAT OUTLINE - AHMAD RIFA'I RIF'AN"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel