#9 TAHAP EDITING - AHMAD RIFA'I RIF'AN

Pada part ini kita lanjutkan sharing tentang proses menulis. Saya ulang dari materi pertama: 

1. Pre-Writing (Menemukan ide, riset, membuat outline) 
2. Drafting dan Writing (Mulai nulis setiap bab) 
3. Editing 
4. Publishing 

Dari 4 tahap menulis di atas, alhamdulillah kita sudah membahas 2 tahap. Pertama, pre-writing, kedua, writing. Di kedua tahap itu memang saya menghabiskan beberapa pertemuan untuk mengulas. Karena kedua tahap itulah kunci dari kualitas naskah kita, sehingga butuh materi yang cukup panjang. 

Kalau outline sudah baik, riset sudah maksimal, menulis sudah disiplin, dua tahap berikutnya kita anggap sebagai tahap bonus saja. Karena dari 4 tahap menulis, tugas utama penulis adalah tahap pertama dan kedua. Sisanya (editing dan publishing) lebih banyak menjadi tugas penerbit.

SELF EDITING (SWASUNTING)

Hari ini kita akan melanjutkan tahap ketiga, yakni editing. Materi editing tidak terlalu panjang. Karena editing bagi seorang penulis dibutuhkan hanya agar naskah yang ditulis tidak terlalu banyak celah. Celah yang pada umumnya terjadi adalah: 

1. Typo 
2. Penggunaan kata baku 
3. Kesalahan tanda baca 

Mungkin ada yang bertanya, "Mas, bukannya tugas mengedit naskah adalah tugas editor? Mengapa saya sebagai penulis juga diberi tanggungjawab mengedit naskah saya sendiri?" 

Benar, bahwa tugas utama mengedit naskah ada pada editor yang umumnya menjadi satu dengan penerbit. Itulah sebabnya materi ini saya beri judul Self editing atau Swasunting, yakni sebuah proses yang dilakukan oleh penulis, baik penulis fiksi maupun non fiksi, untuk mengedit karya tulisnya sendiri. 

Mengapa kita sebagai penulis butuh proses ini?

Sebab kita ingin meminimalisir kesalahan yang ada pada tulisan kita. Dengan tingkat kesalahan yang minim, harapannya naskah kita tidak dinilai sebagai naskah yang asal jadi. Tentu ini menjadi nilai plus bagi penulis, kita menjaga profesionalitas dalam berkarya. 

Yang perlu Anda tahu, di penerbit, yang diberi tugas untuk menerima atau menolak naskah yang kita tulis adalah editor. Jika saat editor melakukan review dan menemukan ada banyak sekali kesalahan pada naskah, tentunya itu menjadi pertimbangan bagi editor untuk menolak naskah yang kita kirim. 

Maka sebelum mengirimkan naskah ke penerbit, jangan buru-buru puas dengan hasil tulisan kita yang finish. Sebab ini biasanya terjadi pada banyak penulis, begitu naskah selesai dan semua bab sudah beres, mereka terlalu bersemangat untuk mengirimkan naskahnya, apa adanya. Malas untuk membaca ulang dari bab pertama sampai akhir. 

Padahal kalau kita pikir-pikir, kita sudah capek-capek nulis, bukankah lebih baik kita menyempatkan diri sejenak untuk membaca ulang naskah kita agar hasilnya maksimal, daripada cepat dikirim ke penerbit dengan naskah yang apa adanya. Satu tahap sederhana tetapi sangat mempengaruhi kualitas naskah kita. 

Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan terkait proses self editing ini.

1.Jangan Dilakukan Saat Masih Proses Menulis 

Ya, jangan melakukan editing saat kita sedang menulis. Saat masih menggarap naskah, abaikan dulu proses ini. Karena ide-ide yang mau kita sampaikan ke pembaca itu lebih penting untuk segera diketik, agar tidak menguap dan hilang. 

Bahkan C.J. Cherryh, seorang penulis novel fantasi dari Amerika pernah mengungkapkan, "Tidak apa-apa menulis sampah, asal setelahnya Anda harus mengeditnya dengan cemerlang." Maksudnya? Menulis saja dulu. Gak peduli tulisan kita itu bagus atau nggak. Sampaikan semua yang ada di kepala kita, tuliskan juga berdasar hasil riset yang sudah kita lakukan. Setelah rampung, segera baca ulang dan lakukan perbaikan. 

2. Anggap Naskah Belum Sempurna 

Setelah menyelesaikan naskah, anggap itu sebagai draft pertama yang masih fleksibel untuk direvisi. Ibarat membuat adonan roti, draft awal baru adonan yang belum mengembang dengan baik. Masih memungkinkan untuk dibenahi. 

Saya biasanya setelah menulis, saya endapkan naskah itu beberapa hari. Sambil saya istirahatkan badan dan pikiran. Beberapa hari kemudian, saya buka naskah yang kelar itu, saya baca perlahan dari awal. Pelan-pelan. Saat itu biasanya saya menemukan diksi yang lebih tepat, paragraf penghubung yang membuat naskah lebih smooth, serta ide-ide baru yang bisa lebih menguatkan dan melengkapi bahasan di naskah. 

3. Berapa Kali Membaca Ulang? 

Mungkin ada yang bertanya, "Lantas berapa kali kita harus membaca ulang naskah kita? Karena kalau dibaca berulangkali pasti ada saja yang mau diperbaiki dan akan terus berkembang. Kalau itu diperturutkan, bisa-bisa naskah kita terus berkembang dan tidak kunjung terbit. Gimana dong?" 

Ya, perlu dibatasi. Jika itu adalah naskah yang temanya sepanjang masa atau tidak terkait dengan momentum tertentu, maka kita lebih leluasa. Penerbit menyebutnya naskah yang evergreen, yang tidak mudah lekang oleh waktu. Meskipun sudah bertahun-tahun, buku masih enak saja dibaca dan relevan dengan perkembangan zaman. Seperti buku agama, motivasi hidup, biasanya akan selalu dibutuhkan sepanjang zaman. Untuk naskah sejenis ini, lakukan editing berkali-kali pun tak masalah. Tapi coba batasi, dua atau tiga kali sepertinya sudah cukup mengurangi celah kesalahan pada naskah. 

Tetapi untuk naskah yang harus segera terbit, dikejar deadline, atau mengejar momentum tertentu, tetap lakukan swasunting. Tetapi batasi, maksimal satu atau dua kali lah. Apalagi jika waktu terbitnya sempit banget. Misal saya menulis materi ini, tanpa melakukan swasunting. Jadi maaf misal ada typo atau melompat dan gak ngalir. Karena saya mulai nulis sekitar jam8an tadi, usai mengantar anak-anak sekolah. 

Tapi jika materi ini nanti hendak dijadikan buku, misalnya, pasti akan dibaca ulang dari awal dan diperbaiki lagi. 

4. Mulailah Familier dengan Kata Baku 

Banyak penulis yang merasa bukunya adalah buku populer, bukan buku ilmiah, lalu tidak peduli dengan penulisan kata baku atau tanda baca. Mereka merasa yang penting adalah ide yang disampaikan, sehingga mengabaikan penulisan bahasa yang baik dan benar. 

Meskipun penggunaan diksi tidak harus selalu sesuai kamus atau ejaan yang benar, khususnya untuk memberi kesan tertentu kepada pembaca, maka diperbolehkan untuk memilih diksi tertentu, meski gak baku. Misal, untuk memberi gambaran suasana santai, kita kadang memilih kata "nggak" daripada kata "tidak". Itu tidak masalah, asal dampaknya signifikan. 

Namun untuk kata-kata yang sebenarnya tidak punya tujuan tertentu, usahakan kita menuliskannya sesuai dengan ejaan yang benar. Kita harus peduli pada penggunaan kata baku, seperti mengubah, bukan merubah; miliar, bukan milyar; apotek, bukan apotik; risiko, bukan resiko; dan seterusnya. 

Kayaknya sepele, tetapi tahu nggak, bagi orang yang sudah terbiasa dengan bahasa, apalagi editor, kesalahan yang kita rasa sepele ini bikin gatel/gemes mata mereka saat membaca. 

Ini memang awalnya terasa memberatkan, apalagi yang belum familier dengan bahasa. Tetapi percayalah, lama-lama semua kata baku itu akan terinstal dengan sendirinya. Kalau tidak dimulai, sampai kapan pun kita akan melakukan kesalahan yang sama. 

Mungkin 4 hal itu perlu menjadi perhatian. Pastikan, kita melakukan swasunting sebelum editor melakukan editing. Tulisan yang tertata dengan baik dan rapi akan membuat editor senang bekerjasama dengan penulis seperti anda.

(Ahmad Rifa'i Rif'an, Griya Menulisa Indonesia)
_______________________
SERI LENGKAP MATERI KEPENULISAN AHMAD RIFA'I RIF'AN
#1 MATERI KEPENULISAN AHMAD RIFA'I RIF'AN
#2 TEKNIK MENEMUKAN DAN MENENTUKAN IDE - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#3 RISET SEBELUM MENULIS - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#4 TIPS MEMBUAT OUTLINE - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#5 DRAFTING DAN WRITING - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#6 MACAM-MACAM TEKNIK MENULIS - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#7 MACAM-MACAM TEKNIK MENULIS 2 - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#8 TRIK MENYUSUN DAFTAR ISI YANG MENARIK - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#9 TAHAP EDITING - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#10 TAHAP PUBLISHING - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#11 BUKU BAGUS BELUM TENTU LARIS - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#12 ADA APA DENGAN PENERBIT INDIE? - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#13 ADA APA DENGAN PENERBIT INDIE? 2 - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#14 MENULIS BUKU DALAM 10 HARI - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#15 Q & A TENTANG KEPENULISAN - AHMAD RIFA'I RIF'AN
Semoga Bermanfaat :)

0 Response to "#9 TAHAP EDITING - AHMAD RIFA'I RIF'AN"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel