#5 DRAFTING DAN WRITING - AHMAD RIFA'I RIF'AN

Materi kali saya beri judul, Drafting dan Writing. Saya kemarin bilang bahwa materi inilah yg menurut saya paling penting. Karena tahap ini yg paling berat dari semua tahapan menulis. Kita butuh napas panjang justru di tahap ini. Karena untuk menulis satu demi satu kalimat, paragraf, bab, hingga menjadi buku utuh, sungguh tidak mudah. Maka saya membahas materi drafting dan writing ini dalam beberapa pertemuan. Ada banyak yg harus saya ulas agar buku kita bisa benar2 jadi. 

DRAFTING DAN WRITING

Hari ini kita membahas materi selanjutnya, yaitu tentang drafting dan writing. Yakni tahap penulisan dari naskah buku yg kita rencanakan. Di tahap inilah kita memulai proses kepenulisan. Setelah outline sudah dibuat, maka kita mulai menulis satu demi satu bab sesuai rencana.

Tahap Tersulit

Kalau boleh mengatakan di awal, inilah bagian paling penting dari proses menulis buku. Bagian inilah yang mampu menyeleksi, siapa yang layak menulis buku dan siapa yang belum layak. 

Mengapa saya mengatakan demikian? Karena pada tahap ini dibutuhkan energi yang cukup besar dan konsistensi yang panjang. Orang yang tidak sabar, pasti akan gugur di proses ini.

Banyak yang punya ide brilian, punya tema yang berpeluang jadi best seller, punya kreativitas luar biasa, tetapi bukunya tidak kunjung selesai karena ia tidak mampu bertahan pada proses ini. Jangankan yang penulis pemula, bahkan dalam diskusi di komunitas penulis, ternyata saya dapati penulis senior pun banyak yang mengalami masalah dalam proses ini. 

Banyak kawan penulis yang cerita bahwa mereka punya daftar tema dan sudah dijabarkan dalam daftar isi. Tetapi tema dan daftar isi itu nganggur bertahun-tahun tak tersentuh karena ketidakseriusan mereka dalam menuliskan isinya. Sehingga ide hanya sekadar ide. Tidak kunjung muncul jadi karya yang dinikmati pembaca.

Sebelum Mulai Menulis Isi 

Daftar isi atau outline yang sudah kita buat bukanlah daftar isi yang udah nggak boleh diubah. Semua perubahan masih mungkin kita lakukan. 

Tapi perlu saya ingatkan, usahakan saat kita sudah mulai menulis, perubahan itu tidak banyak menghilangkan bab yang sudah kita susun. Karena kalau sudah mulai menulis kemudian kita hilangkan bab tersebut lalu kita ganti dengan bab lain, dikhawatirkan tulisan kita akan lebih lama waktu pengerjaannya. 

Maka sebelum mulai menuliskan isi dari masing-masing bab, beri waktu sejenak pada diri kita untuk merenung dan berpikir berkali-kali tentang daftar isi yang kita buat. Beri waktu untuk memikirkan apakah daftar isi yang kita buat itu sudah sesuai dengan keinginan kita atau masih banyak perombakkan.

Butuh Latihan

Ibarat atlit, latihan harus dari yang ringan terlebih dahulu. Lalu bertahap menuju yang lebih berat. Kalau baru mulai latihan langsung diberi beban berat, bisa stres dan jenuh nanti. Itulah mengapa dalam proses pembelajaran di forum ini, saya menyarankan agar menulis buku yg tidak terlalu tebal terlebih dahulu. Jangan langsung 500 halaman, takutnya jenuh di tengah jalan. Paling tidak, kita mulai dari yang ringan dulu. Paling tidak sebagai motivasi untuk melahirkan karya berikutnya. 

Teman2 mungkin pernah dengar cerita tentang pohon bambu cina. Jika anda termasuk orang yang tidak sabar menanti tumbuhnya tanaman, mungkin tak lama anda sudah membabat habis pohon bambu cina. Karena konon pada enam sampai tujuh tahun pertama, pohon ini pertumbuhannya sangat lambat, hanya beberapa centimeter saja bertahun-tahun. Tapi setelah melewati waktu tersebut, ternyata pertumbuhan pohon ini tak terbendung, tumbuh sangat cepat. Ukurannya tak lagi centimeter, tapi meter.

Itulah yang insyaallah terjadi pada proses anda ketika belajar menulis. Awalnya terasa sulit sekali menulis satu dua paragraf. Tapi jangan pernah berhenti belajar. Teruslah konsisten untuk menulis dan terus menulis. Tak lama insyaallah menulis akan terasa mudah, bahkan nggak nulis satu hari sudah nggak nyaman.

Butuh Kesabaran Tingkat Tinggi

Saya sering mengatakan bahwa penulis yang malas berpikir pasti akan menjadi penjiplak yang mahir atau penulis yang fakir. Maksudnya fakir karya. Mengapa? Karena menulis buku itu butuh proses berpikir. Itulah yang membuat jumlah penulis itu terbatas. Karena prosesnya sungguh butuh peras otak yang lumayan berat.

Jika ingin melahirkan sebuah karya, kita butuh kesabaran yang tinggi. 

Sabar menyendiri untuk merenung
Sabar saat memburu berbagai referensi
Sabar menulis kata demi kata
Sabar mengedit naskah agar enak dibaca
Sabar menanti jawaban dari penerbit
Sabar jika disuruh merevisi oleh editor
Sabar menanti proses terbit
Sabar ikut mempromokan buku yang terbit
Sabar jika ternyata buku nggak laku

Lalu sampai kapan kita bersabar? Sampai keinginan kita untuk melahirkan karya sudah mati. Itulah saat dimana kesabaran sudah tidak dibutuhkan lagi. Artinya, selama kita masih punya keinginan untuk melahirkan karya yang bermafaat bagi sesama, selama itulah kita harus berlatih untuk terus sabar dalam belajar. Belajar menghasilkan karya yang makin baik dari waktu ke waktu.

Beginilah Dulu Cara Saya Belajar Menulis

Pada awal-awal menulis buku, strategi inilah yang saya lakukan. Pertama saya menentukan mau nulis tentang bab apa terlebih dahulu.

Misalnya tentang “Manfaat Nikah Muda”. Setelah menyusun daftar isinya, saya lantas mencari beragam buku maupun artikel yang membahas tentang nikah muda dari bahan yg dikumpulkan saat riset dulu.  

Dari buku dan artikel itu, jika menemukan teori atau pernyataan yang sesuai kalo saya masukkan di naskah buku, saya pun mengetik ulang isi buku yang saya baca tersebut, serta mengcopy artikel yang saya baca dari internet. Saya mencari referensi sebanyak mungkin. Bahkan untuk satu sub bab saja saya bisa mengcopy beberapa artikel. Saya memasukkan di sub bab itu tanpa proses edit dulu. 

Setelah semua bab terisi seluruhnya, barulah saya mulai melakukan proses penulisan, merombak tulisan, dan edit. Jangan sampai ada sedikit pun plagiasi. Caranya? Saya membaca satu demi satu paragraf yang saya copy tersebut, setelah saya baca, saya lantas mendelete paragraf tersebut. Setelah saya hapus, saya lantas menuliskan ulang paragraf yang saya hapus itu dengan menggunakan bahasa saya sendiri. Saya mengubah rangkaian paragrafnya menjadi rangkaian bahasa yang gue banget. Karena tiap orang sejatinya punya style komunikasi yang khas.

Mudah kan?

Saat SD mungkin kita pernah mendapat tugas dari guru bahasa Indonesia untuk menceritakan ulang cerita yang dibacakan oleh guru kita. Itulah yang saya terapkan dulu saat belajar menulis. Baca, hapus, lalu ceritakan ulang sesuai pemahaman kita. Dg bahasa kita.

Apakah hanya dg cara itu kita bisa menulis? Tentu saja tidak. Ada banyak teknik lain yg bisa memudahkan kita dalam proses drafting dan writing ini. Pertemuan berikutnya insyaallah kita masih lanjut membahas tentang ini. 

Saya akan bahas juga gimana teknik menulis cepat, bagaimana menyusun deadline naskah, dan beberapa hal lain yg bisa memudahkan kita menyelesaikan naskah buku kita.

(Ahmad Rifa'i Rif'an, Griya Menulis Indonesia)
_______________________
SERI LENGKAP MATERI KEPENULISAN AHMAD RIFA'I RIF'AN
#1 MATERI KEPENULISAN AHMAD RIFA'I RIF'AN
#2 TEKNIK MENEMUKAN DAN MENENTUKAN IDE - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#3 RISET SEBELUM MENULIS - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#4 TIPS MEMBUAT OUTLINE - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#5 DRAFTING DAN WRITING - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#6 MACAM-MACAM TEKNIK MENULIS - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#7 MACAM-MACAM TEKNIK MENULIS 2 - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#8 TRIK MENYUSUN DAFTAR ISI YANG MENARIK - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#9 TAHAP EDITING - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#10 TAHAP PUBLISHING - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#11 BUKU BAGUS BELUM TENTU LARIS - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#12 ADA APA DENGAN PENERBIT INDIE? - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#13 ADA APA DENGAN PENERBIT INDIE? 2 - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#14 MENULIS BUKU DALAM 10 HARI - AHMAD RIFA'I RIF'AN
#15 Q & A TENTANG KEPENULISAN - AHMAD RIFA'I RIF'AN
Semoga Bermanfaat :)

0 Response to "#5 DRAFTING DAN WRITING - AHMAD RIFA'I RIF'AN"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel