4 JAM 15 MENIT - CATATAN PEJUANG KULIAH

Salam,
Ini tulisan lama yang dulu saya ikutkan nulis bareng UKM BAPINDA yang judulnya "Catatan pejuang kuliah". Dan setau saya saat ini bukunya sudah tidak dicetak lagi. Tidak ada salahnya jika tulisan ini saya share kembali untuk menambah daya manfaatnya. Selamat menikmati.

“Pak, Mak, aku pengen kuliah” kata seorang remaja desa yang masa kecilnya paling suka  naik di atas cepetan gaplek (alat pembuat nasi tiwul) memecah suasana. Orang tuanya hanya tersenyum bertanda mendukung dengan apa yang putra satu-satunya itu katakan. Bak minum es dawet disiang bolong setelah seharian lelah beraktivitas rasanya, segar mendengar kata-kata orangtuanya. Lantas dengan penuh percaya diri remaja itu mengupayakan agar titah Tuhan sama dengan titahnya. Titah untuk melanjutkan belajar keperguruan tinggi.

Remaja itu adalah aku yang saat ini berusia 22 tahun, sudah bukan masanya lagi disebut “remaja”. Masa remaja sudah kuhabiskan ketika SMA. Aku beruntung dan sangat bersyukur lahir ditengah-tengah orang yang begitu peduli dengan nasib pendidikan anak-anaknya. Masih kuingat betul, kata yang sering diucapkan oleh Bapakku “Le, Bapak sama Mamak mungkin ndak bisa ngasih warisan apa-apa, cuman ilmu, karena ilmu ndak bakal bisa habis, ntah bagaimana caranya Bapak Mamak bakal ngusahain supaya kamu bisa kuliah.” Kalimat itu menjadi motivasi yang kujadikan senjata ketika mulai berleha-leha melakoni hidup ini.

Aku berasal dari salah satu kabupaten paling utara di provinsi Lampung, Mesuji. Daerah seluas 2.184 km2 yang ditempati kurang lebih 196.913 jiwa manusia ini baru berumur 10 tahun saat tulisan ini dibuat. Mayoritas berpenghasilan dari kebun sawit dan karet. hingga saat ini, jika melintas dijalan utama, pasti berpapasan dengan truk-truk besar bermuatan karet, sawit atau material perbaikan jalan dijam-jam tertentu. Disana, sangat sedikit ditemui jalan hitam beraspal yang nikmat dilewati. kebanyakan jalan masih tanah merah, ketika musim hujan becek dan licin bisa membuat kendaraan motor beputar 180 derajat dari posisi awalnya, kalau jatuh bangun dan baju penuh lumpur jangan ditanya, itu biasa. aku pernah mengalami itu semua. Bahkan saat sekolah dulu, tak jarang aku membungkus kedua sepatu yang kupakai dengan kresek berwarna, sebelah kanan hitam dan sebelah kiri biru, agar tak kotor. Saat cuaca panas jalanan berdebu bagai salju yang membatasi jarak pandang yang tidak baik untuk kesehatan. Suhu panas diatas normal. Jadi wajar kalau banyak ditemui orang-orang Mesuji yang berkulit agak gelap. Seperti aku contohnya.

Saat malam hari, Aku pernah belajar mengunakan ublik (penerangan yang terbuat dari botol beling bekas, diisi minyak tanah dan kembang alang-alang sebagai sumbunya lalu disulut api pucuknya) karena memang ketika itu belum ada listrik, ditengah kesunyian malam, bisa khusuk rasanya. Tak seperti sekarang teknologi dan fasilitas semakin canggih tapi ketenangan dan kenyamanan hidup susah dirasa. Tidak berlangsung lama, desaku ada penerangan diesel milik perorangan yang menyala dari jam 6 sore sampai jam 12 malam. Satu lampunya bayar 60.000,- perbulan, belum kalau tambah TV dan lain-lain, tambah mahal. Masa itu berlangsung sekitar 6 tahun. Baru kemudian saat aku SMA kira-kira kelas XI PLN masuk kedesaku, itupun dengan daya yang sangat kecil, kalau mau nonton TV harus dijam siang, waktu dimana daya listrik tak banyak digunakan oleh yang lainnya. Tapi Alhamdulillah saat ini keadaannya sudah cukup baik. Minimal sudah bisa menikmati serial televisi saat sore menjelang malam hari.

Meski hidup dengan penuh keterbatasan, aku tak pernah lelah untuk belajar. Sejak kecil aku memiliki riwayat prestasi yang cukup baik menurut standar di lingkunganku, selama duduk dibangku SD, peringkat 2 selalu tertulis di raporku ketika pembagian rapor tiba. Meski begitu aku tak pernah menerima ataupun meminta hadiah dari kedua orangtuaku atas prestasi itu. Karena bagiku sudah cukup mereka menyekolahkanku, malu rasanya kalau harus meminta dan meminta. Saat duduk dikelas 5 SD aku berhasil meraih gelar termuda pada acara wisuda Iqro’ didesaku yang ketika itu aku juga mengumandangkan puisi khas anak-anak TPA dengan judul “Pejuang dijalan Allah” untuk pertama kalinya. Senang rasanya, dan berharap cepat atau lambat saya bisa diwisuda lagi untuk jenjang yang lebih tinggi, hafidz Qur’an.

Aku selalu iri dengan cerita teman-teman ketika duduk di kelas XII SMA yang begitu memaksimalkan waktu belajarnya untuk menghadapi UN. Bagaimana tidak, saat aku kelas XII sekolahanku sedang terkena musibah  “kesurupan masal”. Kondisi belajar tidak kondusif, bahkan sekolah masuk jam 8 pulang jam 9, lebih cepat dari jam belajar anak TK/PAUD, kebetulan sekolahku berdiri disampaing sekolah TK, jadi bisa dilihat jelas perbandingannya. Bukan pihak sekolah yang tak bisa tegas dengan kondisi itu, tapi memang suasana ketika itu benar—benar mistis sampai-sampai kegiatan belajar mengajar memang harus dihentikan dan satu persatu siswa bubar, karena kami bisa dengan gampang keluar masuk sekolah dengan kondisi sekolah yang tak berpagar. Sampai sekarang belum ada pagarnya. Berniat mengikuti bimbingan belajar, disana belum ada. Sampai saat inipun belum ada. Diberi jam tambahan untuk les disekolah pun banyak yang dengan sengaja absen. Motivasi dan lingkungannya yang kurang mendukung untuk berkembang. Akhirnya kami menyiasati dengan belajar kelompok untuk mengerjakan soal-soal latihan, itupun jarang-jarang, karena kondisi jarak antara rumah kami yang jauh dan jalanan tak bisa ditebak.

Dengan keajaiban dan keagungan Tuhan akhirnya saya berhasil lulus sekolah menengah dengan nilai yang pas-pasan. Masa SMA berlalu sudah. Teman-teman yang setiap harinya duduk bersama dikelas, bermain gitar bersama, dan lain-lain mulai hari diumumkan kelulusan, aku sadar bahwa kisah-kisah itu akan benar-benar hilang dan menjadi kenangan. Dan hari ini, memang itu yang terjadi, susah untuk berkumpul bersama, bahkan ada grup WhatsApp dari angkatan SD, SMP, sampai SMA pun hanya dibuka saat sempat saja, dan sering tidak menyempatkan diri. Ya, karena semua sudah memiliki kesibukan masing-masing. tapi Alhamdulillah sesekali setiap tahunnya masih sempat berkumpul, meski aku sering absen. Sekali lagi bersyukur Allah memilihku sebagai salah satu lulusan angkatan ke 7 dari SMAN 1 Mesuji Timur bersama kurang lebih 73 teman lainnya pada tahun 2014. Karena memang, ada sebagian teman-temanku yang kuanggap pintar dan cerdas tapi karena pernikahan dini, atau hal lainnya akhirnya tidak bisa merampungkan sekolahnya.

Setiap kelulusan pasti terurai tangis bahagia dari mataku. Lulus SD, lulus SMP, lulus SMA, dan nanti lulus sarjana kupastikan akan lebih keras lagi tangis syukurku, mengingat perjuangan Bapak Mamakku dan likunya hidup dibangku perkuliahan yang begitu mendewasakanku. Dulu, aku sama sekali buta akan informasi perkuliahan. Hanya tekad saja ingin kuliah, tapi tidak tahu harus bagaimana. Belum memiliki HP canggih apalagi punya jaringan yang luas, sekolahpun belum bisa banyak membantu dengan segala keterbatasan yang dimiliki. Boro-boro milih-milih kampus, pokoknya asal bisa kuliah saja sudah senang.

Kurang lebih 8 orang seangkatanku yang melanjutkan kuliah ketika itu. Dan sampai saat ini masih menjadi angkatan yang lulusannya paling banyak melanjutkan kuliah. Miris. Dari kesekian orang itu hanya 3 yang benar-benar terlibat aktif dalam hidupku saat pendaftaran diperguruan tinggi. Sebut saja Beny dan Tyas. Kami mempunyai visi yang sama, saling memotivasi dan memberi arti. Mengurus berkas-berkas pendaftaran bersama, meminta tanda tangan. Menempuh perjalanan yang tak dekat demi sebuah stempel dan tanda tangan kepala sekolah karena deadline pendaftaran, dengan kondisi jalan yang sudah kuceritakan diatas. Hujan dan panas sudah tak dirasa lagi. Dan tak jarang sampai dirumah selepas adzan ‘Isya berkumandang, disambut senyum tanda memberi semangat dari kedua orang tuaku.

Kami bertiga berharap diterima diperguruan tinggi yang sama dengan beasiswa tentunya, agar bisa berjuang bersama-sama kedepannya. Namun Tuhan berkehendak lain. Tyas berhasil diterima dikampus negeri terbaik dikotaku dengan beasiswa bidikmisi pada prodi pendidikan bahasa Inggris lewat jalur SBMPTN. Beny juga demikian, dia berhasil lolos seleksi bidikmisi disalah satau PTS terbaik dikotaku pada prodi teknik informatika. Kedua sahabatku sudah mendapatkan tempat terbaik menurutku dan sesuai dengan apa yang mereka inginkan (kuliah dengan beasiswa). Aku tetap bersyukur setelah melewati perjuangan panjang dan ditolak beberapa kampus dari berbagai jalur masuk akhirnya Allah memberikan takdir untuk bisa melanjutkan pendidikan dikampus Islam terbaik dikotaku, aku juga mendaftar jalur beasiswa bidikmisi. Tapi dengan sistem yang berbeda dari kampus lainnya harus menunggu satu semester dulu baru bisa mengetahui diterima atau tidaknya aku pada program beasiswa itu. Dan pada akhirnya aku tidak diterima hanya saja mendapat potongan SPP.

Meskipun kami kuliah disatu kota yang sama, tapi sangat susah bahkan hingga detik ini salah satu dari kami sudah diwisuda untuk mengagendakan meet up pun tidak pernah bertemu jadwalnya. Maklum, mereka orang-orang penting diorganisasi kampusnya. Bahkan kiprah organisasiku dikampus terinspirasi dari mereka berdua. Saat itu aku diterima lewat jalur UM PTKIN, yang semua proses pendaftarannya dilakukan secara online.

Sebelum melakukan pendaftaran secara online, calon peserta ujian diharuskan untuk membayar registrasi, jarak desaku dengan bank menjadi kendala ketika itu. Aku tak kehabisan akal, registrasi aku titipkan kesalah seorang yang sering bepergian, sore baru bisa kulihat slip pembayaran yang tertera ID dan password untuk log in kesistem pendaftaran. “Ah masih sore, jelas signal masih susah” kataku dalam hati. Sebenarnya bisa ke desa lain yang jaraknya agak lumayan untuk mendapatkan akses signal mudah. Tapi lagi-lagi bereseko jalanannya. Kebetulan saat itu musim hujan. Akhirnya, setelah kartu telkomsel (signal yang ada hanya telkomsel) kudaftarkan paket unlimited 24 jam dengan pulsa 2500 aku pentengin laptop sambil buka mozila. Sesuai dugaanku, berkali-kali aku gagal masuk ke portal pendaftaran UM PTKIN. Dulu, ketika server not found google belum memfasilitasi mainan loncat-loncat itu, jadi cuman bisa diam sambil tangan mengklik reload rutin setip 5 detik sekali. 

Sekitar pukul 11 baru berhasil masuk keportal pendaftaran. Satu hal yang aku sadari bahwa portal pendaftaran tentu membutuhkan koneksi internet yang lebih dibanding sekedar akses facebook Koran. Log in berhasil, kumasukkan semua data yang diminta, klik next. Failed. Aku sempat ketar ketir (khawatir). Reload dan akhirnya berhasil tampil page selanjutnya yang mengharus uploud foto diri. “Krik” dalam hatiku berkata “Sekedar loading data biasa aja susah apalagi harus uploud foto”. Akhirnya coba-coba saja. Jam menunjukkan pukul 00.30, setelah klik uploud, sesuai dugaan, gagal alias server not found, setelah reload dan resend beberapa kali akhirnya pukul 01.00 berhasil teruploud dan pendaftaran selesai. Tahap selanjutnya adalah download kartu peserta. Sama dengan uploud, download membutuhkan jaringan yang memang benar-benar bagus. Sama halnya dengan proses sebelumnya, sempat gagal berkali kali, jeda, mulai, akhirnya pukul 2 lewat 15 menit dini hari kartu peserta terdownload dan siap dicetak. Proses ini aku lakoni seorang diri disaat semuanya tertidur lelap. Tapi dengan begitu sekarang saya bersyukur bisa merasakan nikmatnya hidup didaerah yang koneksi internet lancar meski tidak selancar dinegara koneksi internet tercepat didunia, Korea Selatan dengan kecepatan rata-rata 24,6Mbps. Alhamdulillah..,

Saya mendaftar dijurusan Pendidikan Matematika UIN Raden Intan Lampung dan Teknik Informatika UIN Yogyakarta. Setelah proses ujian tertulis dan menunggu hasil, singkat cerita, aku lulus tes pada pilihan pertama. Dibilang merasa salah jurusan tidak juga. Karena sejauh ini, saya sangat menikmati meski pernah mendapatkan nilai D di KHS (Kartu Hasil Studi).

Masa  kulta (ospek) tiba, saat itu aku belum mempunyai kosan yang tetap, aku bersama dua sahabatku menginap dirumah saudara salah satu sahabatku itu. Untuk sampai kekampus, dibutuhkan waktu kurang lebih 10 menit naik angkutan umum (angkot). Berangkat jam 6 pagi tepat tidak kurang tidak lebih. Naik angkot harus berebut, dapat pun harus bersempit ria dengan penumpang lain, hal itu kami lakoni seminggu lamanya. Setelah itu aku mendapatkan kosan yang memerlukan waktu 20 sampai 30 menit untuk sampai dikelas.

Dua tahun lamanya aku berangkat dan pulang kuliah dengan berjalan kaki. Tak ada alasan untuk meminta kendaraan dengan orang tuaku. Maksud hati ingin mencari alasan yang sedikit ilmiah. Aku ketik pada mesin pencari “bahaya jalan kaki setiap hari”. Jreng. Artikel yang muncul dari puluhan postingan malah kebalikannya, ya yang ada manfaat jalan kaki setiap hari. Tapi memang selama kuliah dengan berjalan kaki saya tidak pernah sakit, walaupun hanya sakit ringan. Dengan berjalan kaki aku bisa lebih disiplin dan berangkat kekampus lebih awal dari jam yang ditetapkan. Sedikit kurang enaknya jika ada jam disiang hari. Harus berjalanan dan menikmati teriknya matahari.

Ditahun pertama, aku memutuskan untuk tidak ikut organisasi kampus apapun itu. Namun ketika awal kuliah beberapa orientasi perkenalan UKM saya ikuti, untuk sekedar mencari tahu UKM ini bagaimana sebenarnya. Dulu, mungkin sampai saat ini juga masih sering kita dengar “Diawal kuliah jangan ikut organisasi, nanti bakal sibuk ini itu dan sebagianya”. Statement tersebut ada benarnya dan ada juga salahnya tergantung kita memposisikan diri dimana. Aku pikir, lebih baik ikut dan loyal diorganisasi sejak awal dari pada tahun kedua atau ketiga baru masuk. Ditahun kedua tepatnya menginjak semester 3 aku baru memutuskan bergabung dibeberapa UKM yang ada dikampusku. Pertama organisasi yang memang kugandrungi sejak SMA, pramuka, dan satunya LDK semacam rohis jika di sekolah menengah.

Kuliah yang kujalani selama satu tahun ternyata belum berhasil membuat hati ini mantap untuk belajar menumpas kebodohan dikampus yang sudah ditakdirkan. Sebelum saya bergabung dikedua organisasi tersebut aku memutuskan untuk mengikuti SBMPTN setelah tahun sebelumnya gagal. Dengan bantuan salah satu guru SMA, akhirnya aku berhasil mendapatkan kartu peserta SBMPTN tanpa biaya pendaftaran (lewat jalur bidikmisi). Tanpa berpikir panjang dan tanpa seorangpun yang tau niatku itu, aku sempatkan untuk membeli buku persiapan tes SBMPTN. Jadwal ujian semester 2 keluar, dan berbarengan dengan jadwal tes SBMPTN, tepatnya hari selasa, hanya selisih beberapa jam saja. Dihari H, tes dilaksanakan lebih dulu ketimbang ujian semester. Aku kelokasi tes naik angkot. Tes SBMPTN selesai, aku segera mencari angkot jurusan kampusku.

Angkot hanya berhenti dihalte, sedangkan jam sudah menunjukkan pukul 14.35 itu artinya aku sudah telat 5 menit. Jarak antara halte dan kelas jika ditempuh berjalan kaki sekitar 7 menit. Aku berjalan setengah lari untuk cepat sampai dikelasku. Sadar kalau hari itu ujian matakuliah Pengembangan Kepribadian dan dimatakuliah itu diwajibkan mahasiswanya berpakaian putih hitam. Langsung kubelokkan langkahku menuju kamar mandi untuk berganti pakaian. Setelah dirasa cukup, dengan terengah aku berlari naik kelantai dua dimana kelasku berada. Akhirnya samapi juga dikelas, tapi tetap aku adalah mahasiswa paling telat yang masuk dikelas itu. Walupun dengan nafas ngos-ngosan, soal-soal berhasil aku kerjakan dengan maksimal. Ujian selesai dan aku pulang kekosan.

Dihari pengumuman SBMPTN tiba aku bingung harus berdoa meminta lulus atau tidak kepada Allah. Selayaknya orang yang mengikuti tes pasti ingin lulus. Tapi jika lulus bakal membuat aku bingung dan sungkan juga untuk menyampaikan kepada kedua otrang tua. Tepat pukul 16.00 aku membuka web pengumuman, dan alhasil background warna hijau muncul dihadapanku dan bertuliskan “Selamat kamu lolos SBMPTN 2015 pada prodi teknik pertanian”. itu artinya aku diterima. Tanpa sadar aku lembar hp dan memegang kepala tanda bingung harus bagaimana. Padahal aku berharap untuk tidak diluluskan. Aneh memang. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya aku putuskan untuk tetap sikampus lamaku. Bahkan setelah itu aku masih nekad ikut tes wawancara. Alhasil aku lolos bidikmisi SBMPTN. Tapi aku tetap pada keputusan awal, meski banyak orang yang menganggap aku bodoh sebab tidak mengambil kesempatan itu. Karena aku tau yang terbaik untuk diriku adalah diriku sendiri.

Aku simpan rapat-rapat pengalaman itu untuk kubagi pada siapa saja yang membutuhkannya. Aku melanjutkan studi hingga saat ini aku duduk disemeter 9, menyandang gelar mahasiswa masbuk. “Ah, tidak apa, Bukankan Allah tidak mempercepat atau memperlambat sesuatu kecuali itu kebakan?” selaku dalam hati.

Dua tahun pertama aku tinggal dikosan, dan semester 5 hingga detik ini aku putuskan tinggal dimushola, menjadi marbot dengan dalih menjaga sholat berjamaah dan belajar hidup bersosialisasi dengan masyarakat, karena selama dikosan aku merasa tak mempunyai hubungan baik dengan masyarakat sekitar. Lain jika disini, saat ada kegiatan kemasyarakatan aku selalu dilibatkan. Selama kuliah, kujalani dengan penuh semangat dan gigih, aku pernah mendapatkan beasiswa BI, menjuarai beberapa ajang perlombaan, pernah menjadi menjadi delegasi acara kepemudaan tingkat nasional, bahkan pernah menjadi asisten dosen aljabar linear 1 selama satu semester, padahal semua orang tahu bahwa Aku bukan manusia yang cerdas, tapi aku adalah manusia yang berjuang keras mewujudkan apa yang aku inginkan.

Sang pembelajar, jika kita bersepakat bahwa every where is class, and everyone is teacher hendaklah kita memanfaatkan setiap kelas dan setiap guru yang ada dalam hidup kita. Tuhan tak pernah salah menetapkan takdir hambanya, bukankah yang menurut kita baik belum tentu baik menurut Allah, pun sebaliknya (Q.S. Al-Baqoroh: 216). Lakukan saja apa yang kau mau selagi tak melanggar titah Tuhanmu. Bermimpi besar adalah hak semua orang, termasuk kamu yang berkilah dengan segala keterbatasan. Bukankah Rahmat Allah begitu luas?, dan terbuka untuk siapapun termasuk pendosa seperti kita (Q.S. An-Nisa: 110). Ingat, bahwa semua mimpimu akan terwujud, asal kamu punya keberanian untuk meraihnya (Q.S. Ar-Ra’d: 11). Ingatlah pula bahwa kunci menaklukkan dunia beserta isinya juga akhirat adalah dengan iman dan taqwa (Q.S. Al-A’raf: 96). Teruslah berkarya dan mempunyai mimpi yang mengangkasa, jangan putus asa (Q.S. Az-zumar: 53) Sukses itu butuh proses, bukan protes dan upah terbesar dari suatu pekerjaan adalah kesempatan untuk melakukan lebih banyak hal (Jonas Salk). Selamat berproses. Itulah sedikit kisah perjuanganku, yang semuanya dimulai dengan 4 jam lewat 15 menit. Semoga bermanfaat (smile emoticon).

0 Response to "4 JAM 15 MENIT - CATATAN PEJUANG KULIAH"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel