SAJAK SUMPAH PEMUDA


PERINGATAN SUMPAH PEMUDA hendaknya tak menjadi kegiatan seremonial belaka yang jauh tanpa makna sesudahnya.

28 Oktober, hanya satu hari dan tak mungkin cukup menjadi nutrisi untuk menjalani hari selanjutnya hingga 28 oktober tahun berikutnya.

Alirkan bait-bait persatuan diri. teruslah mengalir, mendarah daging, dan terpupuk dalam sanubari sepanjang hari.

Satukan hati nurani dan logikamu wahai pemuda, karena itu kesusahan yang sesungguhnya.

Banyak pemuda yang enggak melakukan kebajikan karena sudah tak umum lagi dilakukan, tapi justru sebaliknya, tak sedikit pemuda berbangga melakukan dosa karena sudah umum dilakukan disekitarnya.

Jika kau ber Tuhan, maka imani ajaran Tuhanmu itu, kelar urusan. Maka urusan persatuan hanya akan menjadi buah dari keimanan.

Menyatukan berbagai kelompok kadang tak susah dilakukan. Tapi pertanyaannya, bersatu dalam menggarap poryek kebajikan atau malah sebaliknya ?

Maka, sekali lagi jika kau mampu menyatukan nurani dan logikamu serta mengimani ajaran Tuhanmu, Persatuan dalam rangka kebajikan tak perlu direncanakan, tapi otomatis dilakukan.

Kabarnya Indonesia sedang menghadapi bonus demografi, dengan produktifitasnya harusnya bisa merubah segala sektor negeri ini.

Padatkan karya, selipkan do'a pada setiap usaha yang terlaksana.

Enggan menjadi bagian kebaikan sama saja enggan masuk kedalam syurga Tuhan.

Berbangga menjadi bagian kerusakan sama saja bangga masuk kedalam jahannam.

Untuk apa sobat jika kau dikerumuni teman yang justru perlahan menenggelamkan jati dirimu, mematikan api-api karyamu, dan meluluh lantahkan cita-cita baikmu. Untuk apa?

Lebih baik kau tegar dalam kesendirian, menjadi pundi kebajikan. Biarlah cercaan, bulyan tersudut padamu dari mulut orang-orang yang belum paham.

Sumpah yang diucapkan oleh para pahlawan kita terdahulu, hendaklah mengingatkan kita pada sumpah kita dulu saat berada dikandungan Ibu.

Mari belajar makna pengabdian yang sesungguhnya, pengorbanan yang sesungguhnya, dan kata perjuangan lainnya dangan penuh suka cita.

Beruntung, berkat perjuangan, tetesan keringat, tetesan air mata, bahkan darah para pahlawan tercinta, detik ini kita bisa bernapas lega, menikmati secangkir kopi dan pisang goreng tanpa gusar didada.

Model perjuangan pemuda kala itu, jelas berbeda dengan model perjuangan hari ini. Karena musuh yang dihadapinya pun tak sama. Maka susunlah strategi jitu untuk menghadapinya.

Yang jelas, baik dulu, sekarang, atau yang akan datang, roda perjuangan harus terus digalakkan. Jika berhenti berjuang, maka bersiaplah dijemput kekalahan.

Semua yang serba instan, membuat otak kita enggan berjuang. Dikerjakan bukan dipikirkan. Maunya apa-apa di dulang. Rubah cara pandang kalau mau jadi orang.

Timpang rasanya jika ada seratus orang pejuang kebajikan, tapi disisi lain, ada seribu orang pembuat kerusakan. Tak imbang. Maka pengkaderan pejuang kebajikan dan pemberantasan pembuat kerusakan harus berjalan beriringan.

Kamu adalah kamu, dan aku adalah aku. Tak bisa dipaksa kamu jadi aku dan aku jadi kamu. Mari berkarya dengan gaya dan rupa masing tanpa ingin terlihat sama.

Perbedaan yang ada, biarlah menjadi potensi tak terhingga untuk kehidupan kita. 

Bukankan kita sudah mengaku bertumpah darah yang satu?

Bukankan kita sudah mengaku berbangsa yang satu?

Dan bukankah kita sudah berkomitmen menjunjung bahasa persatuan Indonesia?

Maka tak ada alasan untuk terpecah yang akan berujung resah.

Meski bukan dari mulut-mulut kita kalimat itu ada, tapi ruh pemuda tetaplah mengalir sepanjang masa. Mengalir pada jiwa-jiwa muda yang ingin selalu berkarya. Turun temurun adanya. Mau tidak mau. Suka tidak suka.

Tapi ingat, Muda dan tua bukan tentang usia. Selamat hari Sumpah Pemuda.
Bersatu kita Maju.



Dari Bumi Ragab Begawe Caram.
Mesuji Timur, 28 Oktober 2019.

Photo: Raehan, dkk (siswa 9a MTsN 2 Lampung Selatan 2019/2020)

0 Response to "SAJAK SUMPAH PEMUDA"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel