REVIEW FILM DUKA SEDALAM CINTA (DSC)


Minggu, 22 oktober 2017 pukul 23:19 usai ku lantukan firman-Nya. Setelah kurang lebih 86 menit nonton film duka sedalam cinta atau DSC. Ini kali pertama aku nonton film di bioskop, ya kadang lebih tertarik baca ceritanya dari pada nonoton, taste-nya itu lebih dapet. But, setelah kemarin usai bunda Helvi Tiana Rosa sang pejuang dakwah lewat film menjelaskan betapa susahnya untuk memajukan duni perfilman di Indonesia, khususnya film positif lebih khusus lagi islami. Sedikit terbuka wawasan saya tentang betapa susah membuat film yang benar-benar harus dilandasi dengan niat tulus, hanya untuk Allah, hanya untuk dakwah. Membuat adegan-adegan yang pas tapi tak melanggar syariat Islam memang susah. Terbukti setalah nonton film tadi sepertinya ada yang kurang, misal saat kesedihan menyelimuti sosok Gita di tinggal mas Gagah, hanya ada dua orang yang beradegan, mestinya menyandarkan diri kebahu sang pria (Yudi) tapi itu tidak. Barangkali kita yang biasanya menyaksikan film-film tidak terjaga ya begitu.

Sebelum jauh kesana tentang apa yang aku dapatkan dari film itu, aku mau bilang, setidaknya malam ini adalah kali pertama saya nonton film di bioskop dan ini yang aku tonton film islami Indonesia. Ya, karya muslimah Indonesia, diperankan oleh para muslim Indonesia, dan memaparkan keindahan alam Indonesia yang sangat luar biasa membuat  hati kita tak berhenti memuji keagungan Allah swt. Dari sebelum jadwal film ini akan ditayangkan pun lumayan rutin saya mengikuti perkembangan film satu ini lewat instagram ataupun official web duka sedalam cinta. Trailernya yang kece badai, menambah rasa ingin nonton full film satu ini. Beberapa hari sebelum film ini tayang, Alhamdulillah sudah diuploud official sountracknya dengan lirik plus foto-foto saat syuting DSC itu keren abis. Judulnya pesan cinta (the power of love). Saat ini pun aku sedang mendengarkan lagu bagus ini seolah menjadi music bagi jari jemariku menari di atas keyboard ini. Sekali lagi ini kali pertama dan aku pastikan insyaAllah kedepan jika ada film islam positif aku tonton.

Sayang yang episode pertama atau yang sering mereka sebut dengan film ketika mas Gagah pergi belum berkesempatan nonton. Lampu bioskop perlahan redup dan mati tanda film akan segera diputar. Dan dimulai.

Film ini dibuka dengan deskripsi berupa story secara verbal oleh tokoh itu sendiri bernama mas Gagah, menceritan tentang singkat background kehidupannya dan lebih-lebih keluarganya, ibu dan adik yang sangat ia sayanginya. Ya, deskripsi oleh diri sendiri. Alur yang digunakan dalam film ini campuran sehingga agak susah difahami dan terkesan terpenggal-penggal, namun aku tetap bisa menikmatinya dengan penuh suka cita. Awal mulanya mas Gagah pergi meninggalkan Jakarta dan ibu serta adik satu-satunya. Tentu keluarga kecilnya mengantarkannya di bandara tujuannya ia pergi ke Halmahera selatan. katanya hendak menyelasikan tugas akhir. Tapi, sangat disayangkan tugasnya ini tidak ada ceritanya disesi-sesi berikutnya, atau bisa jadi aku melupakannya.

Adik mas Gagah bernama Gita, masih duduk dibangku SMA dan sikapnya agak kelaki-lakian, berambut  pendek  dan selalu memakai topi kemanapun ia pergi. Dengan gaya pada umumnya ketika seorang adik yang hendak ditinggalkan dengan seorang kakak yang sangat disayangi. Mengaduh tak menentu khawatir mas Gagah nya itu pergi.

Sampailah mas Gagah kesebuah pulai Halmahera selatan, pulai dengan segala keindahan alamnya, pulau dengan kehijauan pepohonnya yang melambai indah seakan ingin menyampaikan pesan cinta dari Allah swt, pulau ndengan keindahan masjid di tepi lautnya, pulau yang lautnya tak lagi berw2arna biru tapi hijau saking indahnya, pulau yang sangat indah dengan segala isinya. Dipulau inilah awal kisah pertemuan mas Gagah dengan tokoh yang endingnya akanmenajdai pendamping hidup Gita, Yudi namanya.

Mas Gagah sedang berdiri di tepi pulau penuh dengan bebatuan asyik mengabadikan pemandangan-pemandangan indah,  Pulau yang tampak asri dikelilingi laut biru kehijauan. Cerita dimulai saat mas Gagah tergelincir dengan adegan yang sangat dramatis dan membuat penonton ikut berkata “aaa..” turut mengkhawatirkan mas Gagah jatuh dan tenggelam dilautan. Kameranya sudah terjatuh dilautan. Kakinya sudah terjatuh, sedang tanggannya masih memegang erat dengan kepayahan memegang sebuah batu. Ah rasanya sudah tak mungkin akan selamat. Tiba-tiba tokoh Yudi, pria tampan berpenci ala santri meraih tangan mas Gagah berniat menariknya. Tapi gagal, dan akhirnya “byurr………” mas Gagah jatuh dari ketinggian kira-kira 30 meter. Sebuah duka sebenernya, tapi aku melihat sisi lain seolah sang sutradara ingin menampilakan keindahan laut Indonesia yang bersih dan tampak menyegarkan, ya itulah yang aku rasakan saat mas Gagah tenggelam kelautan. Bukan kesediahannya tapi keindahnnya.
Itu hanya menit-menit pertama saja. Dan rasanya aku tak mungkin jika harus menceritakan dengan detil setiap sesi dalam film itu. Semoga film ini kedepan masih diputar dan kita semua utamanya yang belum nonton bisa nonton. Atau saya sangat menantikan kapan novel KMGP dan DSC ini terbit. Semoga semuanya dipermudah oleh Allah swt. Selanjutnya ijinkan saya mengungkapkan moral of the story dari film ini. Baik dari personal  pemeran maupun adegan setiap sesinya.

Film ini menceritakan  tentang cinta. Banyak cinta yang ingin disampaikan kepada penonton. Cinta kepada agamanya sendiri dan mentaati perintahNya. Cinta dan kasih sayang yang ada dalam keluarga mas Gagah. Cinta tentang seorang sahabat, Yudi. Cinta kepada sesame manusia. Dan banyak lagi yang lainnya.

Mas Gagah, sang pemeran utama dalam film ini menjadi sosok yang sangat humanis keren dan pemuda islam jaman now banget pokoknya. Kharismatik memang dari cara ia beradegan apapun itu. Mengisahkan bagaimana ia berhijrah dari kehidupan beragam islam yang luar biasa menjadi islam yang biasa saja. Islam yang biasa saja itulah islam yang memegang teguh kitabullah dan menjalankan sunah-sunahnya. Awal ia mengenal lebih jauh tentang islam lewat ust Salim A Fillah dan Yudi. Aku dapat mengambil makna lebih banyak tentang dakwah dari tokoh satu ini. Benar-benar nyata tentang kita yang biasanya sangat pandai mengajak teman-teman kita atau adik-adik binaan kita untuk dekat dengan Allah dan lebih mencintai agama ini bisa dilakukan dengan tidak terlalu sulit. Tapi apakabar dengan saudara dirumah kita ? sudahkah tersentuh oleh dakwah-dakwah kita ? dari hal-hal kecil saja. Membuat saya merenung akan hal ini. Merasa bersalah dan berdosa ketika kelak ada seorang hamba yang wafat dalam keadaan tak mengenal islam sedang kita masih hidup. Kita tidak bisa memaksakan dakwah kita untuk diterima dengan sasaran kita, perlu ikhtiar perjuangan istiqomah yang ekstra agar dakwah kita tersampaikan. Hakikat tujuan dari papaun yang kita lakukan adalah Allah swt. Meski banyak yang mengetahuinya tapi belum tentu mengamalkannya. Menjadi  sosok yang sangat dicinta dan mencintai keluarga. Keindahan akhlaknya, dan kemuliaan hatinya untuk berbagi hingga mendirikan rumah cinta sebagai sarana preman kampung untuk peduli dengan lingkungan dan anak-anak yang tak ada buku buku atau sarana untuk belajar. Jiwa pembelajarnya yang luar biasa. Ganteng luar dalam pokoknya. Dan akhirnya tokoh ini mati sebelum film benar-benar berakhir.

Tokoh kedua yaitu Gita. Dengan sikap ke enjoyannya dan menikmati hidupnya, saya sangat suka. Kata mas Gagah Gita ini orangnya pejuang keras yang melakukan apa yang ia suka dan mewujudkan mimpinya tanpa memperhatikan apa yang orang lain katakan terhadapnya. Ini keren dan perlu kita tiru. Penulis naskah berdakwah tentang memakai jilbab dari tokoh ini. Perjalanan hijrahnya harusnya menjadi inspirasi bagi wanita muslim diseluruh Indonesia untuk menjadi shalihah. Memakai jilbab adalah sebuah kewajiban, perintah haq dari Allah swt yang termaktub dalam kitabnya. Jadi, kalo kamu mau pakai jilbab, pastikan hanya karena Allah bukan selainNya. Bukan urusanmu tentang mereka yang berjilbab tapi tingkahnya belum mencerminkan syariat islam. Bukan juga urusanmu tentang orang-orang yang sampai hari ini sudah baligh berstatus muslimah tapi tak kunjung jua mengazamkan diri untuk menutup aurat dengan sempurna. Berjilbab itu sungguh memberi kebebasana pada wanita dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

Tokoh ketiga yaitu pemeran Yudi. Yudi adalah seorang pemuda yang dengan terang-terangan berdakwah menyampaikan ayat atau hadis dihadapan para penumpang bus. Begitu kharismatiknya cara  penyampaiannya hingga saat Yudi absen di cari penumpang yang sudah langganan menikmati  penyampaian Yudi. Dilain waktu, tokoh ini juga muncul sebagai penolong Mas Gagah. Dengan penuh cinta dan kasih sebagai sesama muslim Yudi membawa Mas Gagah kesebuah pesantren. Disinilah keran hidayah Mas Gagah semakin terbuka lebar. Serta banyak tokoh lainyang berperan. Mau tau ? makanya nonton. :)

Bunda Helvy berhasil mengajak penonton termasuk saya, kala itu seperti benar-benar bermain dalam film, hanyat dalam setiap adegan suka maupun duka. Terlebih kesedihan Gita saat baru saja berhijrah tak sabar menanti kepulangan sang kakak yang telah menyadarkan dia untuk berhijrah, malah mendengar kabar kakaknya masuk rumah sakit hingga berakhir meninggal dunia. Ending yang tidak bisa ditebak, dan mengajak saya berkhayal ketika berkeluarga nanti seperti mereka. Bahagia rasanya.

Lebih jauh dari keindahan tersurat yang saya lihat. Film ini juga diperkaya dengan kekayaan ruh dari pemain, penulis naskah, maupun lainnya yang terlibat (InsyaAllah). Banyak pesat tersirat yang bisa kita ambil. Contoh saja Hamas syahid, hafidz Quran, Salim A Fillah Ustd. Yang masyaAllah dengan kata dan karyanya yang luar biasa. Semoga pesan-pesan cinta yang begian juga tidak terlewat oleh penonton DSC.

Allah turunkan Rahmat-Mu kepada mereka. Mereka yang menyeru kejalanMu melalui perfilman. Mereka yang dengan mati-matian memperjuangkan agar bisa ditonton oleh seluruh masyarakat Indonesia. Semoga Kau balas syurga untuk mereka, orang-orang yang terlibat dalam aktivitas tak kalah mulia itu. Saya Insyaallah siap nonton dan sukseskan film-film Islami kedepannya.
Maju terus film positif Indonesia.


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel